Tidak semua orang tahu bahwa terapi pencegahan TBC atau TPT merupakan salah satu strategi penting dalam eliminasi TBC selain diagnosa dan pengobatan. Meski tidak ditemukan gejala TBC, orang yang bakteri TBC perlu memperoleh terapi pencegahan tuberkulosis untuk mencegah bakteri TBC bertambah banyak dan menyebabkan sakit TBC. Pemberian TPT ini pun harus dilakukan setelah berkonsultasi dengan petugas kesehatan. Hal ini yang kemudian diketahui oleh Patih (50), ayah dua orang anak yang saat ini tinggal dengan ibu mertua yang sedang menjalani pengobatan TBC.

Coronavirus 2019 (COVID-19) sudah sejak setahun menjadi persoalan global. Bahkan hingga saat ini. Penanggulangan penyakit infeksi yang disebabkan oleh novel coronavirus atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) ini kini mulai tahap baru dengan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 secara global. Meski demikian proses vaksinasi ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Sehingga menjalankan protokol kesehatan dengan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak) tetap menjadi upaya pencegahan yang efektif, serta didukung dengan menjaga pola makan yang baik. 

Seorang pasien TBC disarankan memiliki pola makan yang sehat dan bergizi seimbang. Pola makan ini dapat dicapai dengan mengonsumsi makanan dari empat kelompok makanan pokok, diantaranya sereal, kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, susu dan produk susu, daging, telur dan ikan, minyak, lemak dan kacang-kacangan serta biji-bijian. Meski demikian, dikutip dari tbfacts.org, disebutkan bahwa tidak semua jenis makanan tersebut harus dimakan setiap kali makan, namun mengandung nutrisi esensial. Nutrisi esensial adalah nutrisi yang harus disediakan oleh pola makan seseorang. Nutrisi ini diperlukan agar tubuh berfungsi dengan baik. Enam nutrisi penting tersebut antara lain karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air.

Berdasarkan laporan badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2020, Indonesia merupakan negara dengan beban tuberkulosis (TBC) teringgi kedua setelah India dengan estimasi kasus 845,000 di tahun 2019. Selain itu, Indonesia merupakan 1 dari 10 negara yang berkontribusi terhadap 77% kesenjangan secara global untuk estimasi kasus TBC Resistan Obat (TBC RO) dengan estimasi kasus sebanyak 24,000. Dari 24,000 kasus ini, hanya 11,463 (48%) yang terkonfirmasi sebagai kasus TBC RO dan hanya 48% pasien TBC RO yang memulai pengobatan TBC lini kedua. Kondisi ini menunjukkan rendahnya cakupan angka mulai pengobatan TBC lini kedua, yang berpotensi untuk meningkatkan penularan TBC, khususnya TBC RO. Selain rendahnya cakupan angka mulai pengobatan, angka keberhasilan pengobatan TBC RO juga masih belum mencapai target, yaitu dengan 45% pasien TBC RO yang mulai pengobatan TB lini kedua di tahun 2017 berhasil menyelesaikan pengobatan atau dinyatakan sembuh

Halaman 1 dari 67