Pasien TBC yang terinfeksi COVID-19 akan memiliki gejala yang lebih berat dibanding mereka yang tidak. Hal ini dikarenakan TBC merupakan penyakit infeksius yang menyerang organ paru, sementara COVID-19 juga menyerang saluran pernafasan, sehingga membuat pasien TBC yang terinfeksi COVID-19 akan memiliki dampak yang lebih berat dibanding mereka yang tidak.

Pasien TBC yang tengah menjalani masa pengobatan membutuhkan pendampingan dalam mendukung proses pengobatan, terlebih bagi pasien TBC Resistan Obat (TBC RO) mengingat masa pengobatan yang lebih lama, jumlah obat yang dikonsumsi, serta efek sampingnya. Dalam mendukung upaya ini, badan kesehatan dunia (WHO) mengeluarkan panduan dalam membantu pelaksanaan pendampingan pasien, terutama TBC RO yang berbasis pada masyarakat (people centered).

Pandemi yang sudah berlangsung satu tahun yang melanda global termasuk Indonesia, telah memberikan dampak cukup signifikan bagi layanan kesehatan lainnya, termasuk tuberkulosis (TBC). Sebagai negara dengan beban TBC nomer dua di dunia, tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri. Meski TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan dan perawatan yang tepat, teratur, dan lengkap, namun keterbatasan akses dan ketakutan untuk mengakses layanan kian menghambat pelayanan TBC.

Masih dalam rangkaian kegiatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2021, Kota Medan turut menggelar acara peringatan sebagai bentuk komitmen dan dukungan dalam penanggulangan tuberkulosis. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 9 April 2021 di Istana Koki, Kota Medan. Dalam rangkaian acaranya, Yayasan KNCV Indonesia (YKI), sebagai organisasi lokal yang fokus untuk penanggulangan TBC turut memperkenalkan aplikasi SOBAT TB dalam mendukung penemuan kasus TBC di Kota Medan, serta meningkatkan mekanisme akses masyarakat kepada fasyankes untuk tatalaksana TBC, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi TBC yang akurat dan berkualitas.

Halaman 1 dari 73