Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit sistemik yang ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap antigen tubuh sendiri. Hal ini juga menyebabkan kerusakan organ yang memunculkan reaksi inflamasi. Dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, disebutkan bahwa infeksi merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada LES. Meskipun sebagian besar infeksi disebabkan oleh kuman Gram negatif atau Gram positif, terdapat peningkatan insiden infeksi Mycobacterium tuberculosis pada LES yang juga meningkatkan kematian pasien.

Masih tingginya kasus TBC di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah edukasi dan pemahaman yang belum memadai dari masyarakat mengenai penyakit TBC. Selain itu adanya stigma terhadap penyakit TBC berdampak pada terhambatnya masyarakat untuk memeriksakan diri maupun melanjutkan pengobatan. Kondisi ini tentu berakibat pada meningkatkanya risiko penularan sehingga upaya untuk eliminasi TBC menjadi jauh dari target.

Saat ini, Indonesia merupakan negara dengan peringkat kedua tertinggi untuk beban tuberkulosis (TBC) secara global. Dengan kondisi pandemi COVID-19 yang dialami saat ini, tuberkulosis menjadi salah satu masalah kesehatan yang juga memerlukan perhatian khusus. Utamanya dengan semakin meningkatnya angka TBC kebal obat serta TBC dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti HIV dan diabetes mellitus. Dalam penanggulangan TBC nasional, pemerintah tidak dapat bekerja sendirian. Pelibatan masyarakat yang diwakili oleh komunitas merupakan salah satu komponen penting untuk menunjang implementasi program di lapangan.

Saat ini pemerintah tengah menggalakkan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 sebagai salah satu upaya penanggulan pandemi. Tentunya tenaga kesehatan, baik dokter, perawat, dan bidan menjadi sosok penting yang berperan dalam melakukan vaksinasi guna mendukung tercapainya target vaksinasi bagi masyarakat. Hal ini diharapkan tidak hanya dapat memberikan dampak pada penurunan kasus COVID-19, namun juga membantu mengembalikan layanan kesehatan lain sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan kesehatan. Meski demikian, ketika tenaga kesehatan kemudian difokuskan pada pelaksanaan vaksinasi, tentu berdampak pada pelaksanaan layanan kesehatan lain terkait dengan SDM yang dilibatkan dalam kegiatan vaksinasi.

Halaman 1 dari 76