Jokowi Ajak Lintas Sektor Ikut Gerakan TOSS TBC Untuk Mencapai Eliminasi TBC 2030

Dalam mencapai eliminasi TBC 2030, perlu peran banyak pihak. Mengingat TBC merupakan salah satu dari lima besar penyebab kematian prematur dan kematian penduduk di Indonesia selama kurun waktu 2007-2017. Berangkat dari latar belakang ini, maka Kementerian Kesehatan menggelar pertemuan peluncuran “Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030” sebagai momentum untuk mendorong pertisipasi lintas sektor.

“Mengatasi TBC perlu dukungan lebih banyak sektor. Terutama dari segi infrastruktur, sebab kuman TBC melayang-layang di tempat yang lembab, kurang cahaya matahari, dan tanpa ventilasi, serta kepadatan lingkungan mempermudah penularan antar individu,” ujar Arifin Panigoro, anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang aktif dalam pemberantasan TBC.

Acara yang diselenggarakan di Techno Park Cimahi, Jawa Barat ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Jokowi dalam arahannya mengajak lintas sektor untuk bersama-sama menuju eliminasi TBC 2030. Melalui Gerakan TOSS TBC, Temukan TBC Obati Sampai Sembuh, diharapkan masyarakat yang terinfeksi TBC dapat segera ditemukan dan mendapat pengobatan hingga tuntas. Upaya ini penting dilakukan dalam memutus mata rantai penularan TBC. Turut hadir Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (MenkoPMK) Muhadjir Effendy, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, perwakilan kementerian/Lembaga, pimpinan daerah, sektor swasta, dan anggota masyarakat.

“TBC merupakan penyakit yang mematikan dan sangat berdampak bagi kehidupan masyarakat tetapi bisa disembuhkan. Ini memotivasi kita untuk bisa bekerja sama antar bagian di pemerintahan Sumatera Utara yang merupakan nomor lima tertinggi kasus TBC di Indonesia. Karena dengan masyarakat yang sehat maka ia akan dapat membangun wilayahnya,” ujar Edy Rahmayadi, Gubernur Sumatera Utara.

Pendekatan Digital Aplikasi Untuk Eliminasi TBC 2030

Yayasan KNCV Indonesia dalam perannya mendukung gerakan TOSS TBC, mengembangkan tiga buah aplikasi yang dapat diakses oleh masyarakat umum. Tidak dipungkiri, kebutuhan masyarakat untuk terkoneksi secara digital sangat tinggi. Sehingga YKI menggunakan pendekatan ini dalam mengembangkan tiga buah aplikasi, yaitu SOBAT TB, SITRUST, dan EMPATI. Ketiga aplikasi ini memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya.

SOBAT TB dirancang untuk meningkatkan akses bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi mengenai TBC. Aplikasi ini menjadi sarana bagi pasien, organisasi mantan pasien, serta tenaga medis untuk saling berbagi informasi sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan TBC di seluruh wilayah Indonesia. Sementara SITRUST mendukung dalam pemantauan pengiriman paket contoh uji (sputum/dahak). SITRUST penting dalam mendukung eliminasi TBC sebagai langkah awal penemuan kasus TBC melalui mempermudah akses pasien untuk mendapatkan diagnosa yang efektif. Dan yang terakhir adalah EMPATI, aplikasi ini berfungsi dalam membantu petugas kesehatan dan pendamping pasien TBC Resistan Obat dalam melakukan pengobatan hingga tuntas. Melalui EMPATI, setiap pasien yang didampingi dapat dipantau perkembangan pengobatannya.

Ketiga aplikasi ini dapat diakses melalui google play store dan digunakan oleh semua pihak. Dalam acara ini, YKI mempromosikan ketiga aplikasi tersebut dan pengunjung dapat mencoba secara langsung penggunaannya.

“Aplikasi SOBAT TB sangat membantu kami, terutama dalam melakukan edukasi dan pendampingan bagi pasien,” ujar Ully Ulwiyah, ketua dan pendiri PETA, sebuah organisasi mantan pasien.

Pengembangan aplikasi ini, menjadi upaya YKI dalam mendukung strategi nasional penanggulangan TBC 2020-2024 dalam pemanfaatan teknologi skrining, diagnosis TBC, meningkatkan peran serta komunitas, mitra dalam eliminasi TBC, serta meningkatkan akses layanan TBC yang berpihak pada pasien TBC.

Eliminasi TBC tahun 2030 tidak mungkin dapat terwujud tanpa peran serta semua pihak. Kerja sama lintas sektor menjadi salah satu kunci agar cita-cita tersebut dapat tercapai. Mengingat masalah TBC tidak hanya berkaitan dengan masalah kesehatan belaka, namun juga masalah ekonomi dan sosial.

 

Teks: Melya Findi
Editor: Erman Varella
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden, Melya Findi