HANI: Polemik Narkoba di Tengah Pandemi

Tanggal 26 Juni diperingati sebagai Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) setiap tahunnya. Momen ini menjadi peringatan serta upaya untuk memperkuat aksi dan kerja sama secara global dalam memberantas narkoba. Hari Anti Narkotika Internasional dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba. Penetapan 26 Juni sebagai Hari Anti Narkoba Internasional digagas oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 26 Juni 1988.

Narkoba hingga saat ini masih menjadi persoalan di Indonesia. Jumlah pengguna yang terus meningkat setiap tahunnya menjadi salah satu kendala yang sulit diberantas. Tidak hanya masyarakat umum, namun juga publik figur serta bahkan penegak hukum pun kerap terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. Kekhawatiran ini semakin dipertajam akibat maraknya peredaran gelap narkotika telah merebak di segala lapisan masyarakat, termasuk di kalangan generasi muda. Mengingat hal ini berpengaruh terhadap kehidupan generasi muda di masa mendatang. Dari data yang dihimpun oleh Badan Narkotika Nasional (BNN), disebutkan bahwa angka penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar di tahun 2018 mencapai angka 2,29 juta orang. Jumlah ini tersebar di 13 ibukota provinsi di Indonesia.

Kebijakan pemerintah dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar yang terjadi di sejumlah daerah ternyata tidak membuat peredaran narkoba lantas mengalami penurunan. Sistem online pun menjadi sarana para sindikat untuk melakukan proses transaksi jual beli. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Heru Winarko, dalam konferensi pers menyatakan bahwa peredaran narkoba selama pandemi COVID-19 mengalami peningkatan, terutama dalam dua bulan terakhir ini.

Sama halnya dengan rokok dan alkohol, narkoba yang berdampak pada kesehatan pernapasan dan paru-paru, juga menjadi faktor risiko seseorang mengalami komplikasi serius COVID-19. Disebutkan bahwa di Indonesia, jumlah sabu yang disita setiap tahun meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu sebanyak 17,9 ton disita, jumlah ini melebihi jumlah gabungan yang dicatat selama dua tahun sebelumnya. Data ini kemudian menunjukkan bahwa sabu adalah jenis narkoba yang banyak dikonsumsi di Indonesia dibanding dengan ekstasi dan ganja. Sabu berisiko karena efeknya terhadap pernapasan dan kesehatan paru-paru. Sabu atau juga dikenal dengan bahasa ilmiahnya metamfetamin dapat mempersempit pembuluh darah, yang juga berdampak terhadap kerusakan paru dan hipertensi paru pada orang yang menggunakannya. 

Selain itu, penyalahgunaan ganja juga memberi dampak buruk pada kesehatan. Penggunaan ganja justru dapat membuat kerusakan pada imunitas tubuh. Padahal untuk melawan COVID-19 kita dituntut untuk menjaga sistem kekebalan tubuh dengan baik. Ganja dapat menekan sistem kekebalan tubuh yang kemudian mudah untuk memicu terjadinya infeksi. Selain berdampak pada imunitas tubuh, ganja juga memiliki risiko pada organ paru-paru. Kandungan tar pada ganja hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari tar tembakau dalam rokok. Bahkan asap yang dihasilkan dari pembakaran ganja juga memiliki kandungan zat penyebab kanker yang jauh lebih tinggi dari asap rokok biasa.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan COVID-19 sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)/Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD) pada tanggal 30 Januari 2020. Menanggapi hal ini pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI menerbitkan panduan kepada masyarakat untuk menghadapi COVID-19. Panduan ini merupakan upaya untuk pengendalian dan pencegahan, dimana salah satunya upayanya adalah dengan menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara, penggunaan narkoba justru malah akan semakin memperburuk kondisi daya tahan tubuh.

  

Sumber: 

  1. https://www.drugabuse.gov/about-nida/noras-blog/2020/04/covid-19-potential-implications-individuals-substance-use-disorders?page=1
  2. https://bnn.go.id/penggunaan-narkotika-kalangan-remaja-meningkat/
  3. https://mediaindonesia.com/read/detail/320194-ternyata-peredaran-narkoba-meningkat-saat-pendemik-covid-19
  4. https://aceh.tribunnews.com/2020/06/13/transaksi-narkoba-via-online-meningkat-selama-pandemi
  5. https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/15/crystal-meth-now-cheaper-stronger-in-indonesia-un-report.html
  6. https://www.halodoc.com/perlu-tahu-ini-efek-ganja-pada-kesehatan-tubuh

Editor: Melya Findi, Aditiya Bagus
Gambar: Amadeus Rembrandt