Seminar ILTB: Pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkulosis dalam Mendukung Eliminasi TBC di Indonesia

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah global, dimana saat ini menempati peringkat sepuluh besar penyebab kematian. Pada tahun 2018, diperkirakan 10 juta penduduk menderita sakit TBC, dengan 1,1 juta anak usia kurang dari 15 tahun dan 8,6% pada populasi orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Di Indonesia, angka notifikasi meningkat dari 331.703 di tahun 2015 menjadi 563.879 kasus di tahun 2018 (Global TB Report, 2019). Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan hampir dua miliar orang dari seluruh populasi dunia terinfeksi TBC laten dan diperkirakan sekitar 10% atau sebanyak 200 juta orang di antaranya akan berkembang menjadi sakit TBC. Untuk mengatasi berkembangnya TBC menjadi aktif, penting dilakukan terapi pencegahan TBC (TPT) pada mereka dengan infeksi TBC laten.

 Terapi pencegahan TBC (TPT) menjadi salah satu strategi eliminasi TBC, selain diagnosis dan pengobatan. Implementasi TPT di Indonesia diberikan kepada dua populasi paling berisiko, yaitu anak usia di bawah 5 tahun yang merupakan kontak serumah dengan pasien TBC paru aktif dan ODHA. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan Yayasan KNCV Indonesia menggelar kegiatan seminar pengobatan infeksi laten tuberkulosis (ILTB) selama dua hari secara daring pada tanggal 25-26 Juni 2020.

Seminar ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang konsep infeksi laten TBC dan pentingnya melakukan terapi pencegahan TBC. Seminar yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, Dinas Kesehatan Provinsi, ahli, jejaring layanan, LSM, dan sejumlah mitra yang berperan dalam eliminasi TBC di Indonesia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes membuka acara ini. Dalam pembukaannya beliau menyatakan bahwa target eliminasi target 2030 dapat kita capai dengan mengkombinasikan upaya pengobatan dan pencegahan dengan pemberian terapi pencegahan tuberkulosis bagi TBC laten.

Hari Pertama:

Di hari pertama ada empat materi yang dibagikan oleh narasumber. dr. Imran Pambudi, MPHM, sebagai pembicara pertama memberikan paparan mengenai bagaimana kebijakan, situasi terkini, capaian TPT pada kontak anak di Indonesia serta memberikan pengantar project IMPAACT4TB. Beliau juga menyatakan ada 4 strategi peningkatan cakupan TPT, yaitu dengan perluasan prioritas sasaran TPT, penggunaan panduan TPT jangka pendek, penggunaan strategi komunikasi terkait penanganan ILTB dan pemberian TPT, dan optimalisasi peran kader komunitas.

dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), PhD, SpA(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Gajah Mada juga memberikan paparan mengenai alur pemeriksaan ILTB dan pemberian TPT pada anak. Pada sesi ini, beliau juga membagikan pengalamannya mengenai dampak anak yang memiliki kontak erat TBC namun tidak mendapatkan pengobatan TPT.

“TPT penting pada anak karena anak yang memiliki kontak erat sangat berisiko tinggi berkembang menjadi TBC aktif. Anak yang berisiko menjadi sakit berat pada kenyataannya juga berisiko pada kematian. Penting menyelamatkan anak-anak sejak dini agar mendukung kualitas hidup mereka yang lebih baik, dan tentunya ini juga berkontribusi untuk eliminasi TBC,” ujar dr. Rina dalam paparannya.

Dalam seminar ini, peserta juga mendapat informasi rekomendasi dari dr. Setiawan Jatilaksono, dari WHO terkait pedoman WHO terbaru tentang manajemen programatik ILTB 2020 yang meliputi update dalam pedoman ILTB terbaru, pilihan terbaru rekomendasi pengobatan pencegahan TBC, dan sekilas tentang pengobatan pencegahan dengan rejimen jangka pendek. Salah satu rekomendasi yang penting untuk dilakukan adalah dengan investigasi kontak secara aktif.

Seminar ditutup dengan paparan dr. Murni L Naibaho, dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenai capaian dan tantangan dalam implementasi TPT pada kontak anak di DKI Jakarta. Capaian DKI Jakarta dalam mengimplementasikan TPT terbilang lebih tinggi dibanding wilayah lain di Indonesia, meski demikian capaian tersebut masih jauh dari target nasional dan masih sangat perlu ditingkatkan agar anak-anak yang berpotensi tinggi terkena TBC aktif dapat diminimalisir.  

Hari Kedua:

Pada hari kedua (26/6) dibuka oleh moderator yaitu dr. Bachti Alisjahbana yang diikuti oleh paparan Prof. Gavin Churchyard mengenai Sejarah perkembangan TPT, dan pemahaman pathogenesis infeksi TB dan penyakit TB, juga keuntungan dan kerugian rejimen TPT jangka pendek. Pada paparannya Prof. Gavin dari Aurum Institute menjelaskan berbagai macam perkembangan dari studi kasus TPT di berbagai negara. Menurut beliau IMPAACT4TB telah berhasil menurunkan harga rifapentine dari $45 ke $15 per individu.

Infeksi COVID 19 dapat memperburuk kondisi orang yang sudah terjangkit TBC. Di tingkat global lockdown 3 bulan dan restorasi 10  bulan yang berlarut larut dapat menyebabkan tambahan 6,3 juta kasus TB dan 1,4 juta kematian TB antara kurun waktu 2020 dan 2025.

Sesi dilanjutkan dengan paparan mengenai praktik baik penggunaan paduan 3HP di negara Marshall Islands dan Pakistan melalui penjelasan kelebihan dan kekurangan rejimen 3HP untuk TPT oleh dr. Jeremy Hill dari KNCV Tuberculosis Foundation.

Seorang peserta bertanya “bisakah kita meminta pengobatan TPT untuk langsung tiga bulan, agar pasien tidak perlu terlalu sering datang ke pusat layanan?” menurut dr. Jeremy hal tersebut bisa saja dilakukan, namun memang belum ada penelitian mendalam mengenai efektifitas metode pemberian tersebut.

Kemudian, di akhir acara ditutup melalui paparan dari Kasubdit TB, dr. Imran Pambudi. Dengan pesan, bagaimana caranya menyampaikan informasi mengenai terapi ini kepada orang tua anak-anak dan orang dengan kriteria TPT agar meminimalisir penolakan pemberian TPT tesebut, dan foto bersama panelis dan peserta.

Seminar yang berlangsung selama dua jam ini, berjalan dengan lancar dengan keaktifan peserta dalam memberikan pertanyaan serta membagikan pengalaman di lapangan tentang bagaimana mereka selama ini memberikan layanan. Selama ini salah satu kendala yang kerap dihadapi adalah pemberian TPT masih dianggap belum penting karena tidak adanya gejala pada anak ataupun ODHA. Sehingga pemberian edukasi penting untuk ditingkatkan agar masyarakat semakin paham pentingnya penerapan TPT.

 

Teks: Melya Findi dan Amadeus Rembrandt
Editor: Rerin Alfredo, Yuvensia