AMPUH: Pemantapan Mutu Eksternal Guna Pengembangan Jejaring Lab Pemeriksaan VL HIV

Pemantapan Mutu Eksternal (PME) HIV merupakan kegiatan utama proyek AMPUH selain peningkatan upaya peningkatan cakupan pemeriksaan viral load HIV. Upaya ini perlu dilakukan secara sistematis dengan mengembangkan jejaring laboratorium. PME HIV akan dilakukan dalam 2 siklus selama tahun 2020 melibatkan 18 Laboratorium RT-PCR ABBOTT m2000, 13 Laboratorium GeneXpert dan 4 laboratorium pelaksana pemeriksaan early infant diagnosis (EID). Sebagai rangkaian kegiatan kampanye Bulan Viral Load HIV 2020, konsorsium AMPUH bersama Sub Direktorat HIV dan PIMS Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  menggelar kegiatan penyusunan Juknis dan sosialisasi pemantapan mutu eksternal HIV yang diselenggarakan secara berurutan pada tanggal 22 dan 23 Juli 2020.

Pertemuan tanggal 22 Juli merupakan kali pertama dari rangkaian pertemuan penyusunan juknis PME HIV. Pada pertemuan pertama ini, dipaparkan dan didiskusikan draft pertama juknis PME HIV serta kesepakatan pembagian tugas dari tim penulis. Hari pertama ini dihadiri oleh 30 peserta yang terdiri dari Subdit HIV dan PIMS, Subdit Mutu dan Akreditasi, Organisasi profesi (PDS PatKLIn, PAMKI), petugas laboratorium, perwakilan laboratorium EID, BBLK Jakarta, WHO, dan konsorsium AMPUH. Dr. dr. Agus Kosasih, SpPK dari Rumah Sakit Dharmais memandu sesi pembahasan materi Juknis Pemantapan Mutu Eksternal HIV dari Bab 1 hingga bab VI. Draft berikutnya (ke-2) dari dokumen Juknis ini ditargetkan akan diselesaikan dalam kurun waktu seminggu kedepan.

Pertemuan sosialisasi kegiatan PME HIV pada tanggal 23 Juli membahas sejumlah materi terkait dengan pengenalan PME bagi laboratorium pelaksana pemeriksaan HIV dalam kaitannya dengan manfaat penyelenggaraan PME secara umum. Dipaparkan juga informasi terkait 3 metode PME yang akan dilaksanakan melalui kegiatan AMPUH yang meliputi PME untuk pemeriksaan VL HIV untuk RT-PCR Abbott m2000 dan TCM maupun PME untuk pemeriksaan EID menggunakan mesin RT-PCR Abbott m2000.

Nurjannah Sulaiman, S.K.M, M.Kes, Kasubdit HIV dan PIMS dalam membuka pertemuan hari kedua mengatakan bahwa pelaksanaan PME ini merujuk pada pedoman dari Permenkes no. 15 tahun 2015 tentang pelaksanaan laboratorium Pemeriksa HIV dan Infeksi Oportunistik. Sehubungan juga dengan penyelenggaraan untuk COVID-19, maka penyediaan kebutuhan BHP dan alat untuk mendukung pemeriksaan VL HIV perlu berkompetisi. Meski demikian kami berharap pelaksanaan dapat berjalan lancar karena akselerasi pemeriksaan viral load ini merupakan salah satu upaya untuk peningkatan mutu layanan untuk HIV.

Dr. dr. Francisca S, SpPK, konsultan laborarotium Yayasan KNCV Indonesia memaparkan mengenai proyek AMPUH dan rencana kerja proyek yang berkaitan dengan penguatan lab HIV. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam rangka peningkatan cakupan pemeriksaan VL HIV dan EID akan digunakan aplikasi SITRUST yang dikembangkan oleh Yayasan KNCV Indonesia untuk mendukung proses kegiatan transportasi spesimen.

“Kita harapkan proram ini akan dapat berkesinambungan di masa yang akan datang, dan melalui proyek AMPUH ini ada sejumlah dukungan yang akan diberikan yaitu, bantuan teknis melalui peningkatan pelaksanaan VL HIV, aplikasi SITRUST, dan peningkatan kualitas laboratorium HIV, termasuk juga dalam hal penyusunan JUKNIS Pemantapan Mutu HIV,” ujar dr. Francisca dalam paparannya.

Dilanjutkan dengan Dr. dr. Agus Kosasih, SpPK dari Rumah Sakit Dharmais menjelaskan pentingnya PME, diantaranya adalah untuk menghubungkan hasil pasien dengan hasil sebelumnya serta dapat membandingkan hasilnya antara waktu dan metode. Sehingga mampu menghasilkan hasil identik antara metode dan versi pemeriksaan yang berbeda atau dengan menggunakan konversi yang dapat dipercaya dan stabil.

“PME merupakan sistem yang dibuat untuk memeriksa secara objektif performans laboratorium melalui fasilitas di luar laboratorium. Ada tiga jenis PME yaitu proficiency testing, rechecking atau retesting, dan on-site evaluation atau biasa dilakukan ketika ada kesulitan untuk melaksanakan uji profisiensi tradisional atau metode rechecking/retesting,” terang dr. Agus.

Tahun ini akan dilakukan 2 kali siklus untuk masing-masing PME viral load HIV (HIV/RNA) dan PME EID (HIV/DNA), adapun dalam pelaksanaanya proses yang berlangsung adalah mulai dari pendaftaran keikutsertaan, pengiriman sampel, pengerjaan bahan kontrol, pelaporan hasil pemeriksaan, analisis hasil, laporan hasil analisis, hingga sertifikat keikutsertaan dan performa per tahunnya. Bp. Romy Seno perwakilan dari Randox, yang adalah penyelenggara kegiatan PME ini, turut hadir menjelaskan mengenai kegiatan PME yang akan berlangsung. Beliau juga mensimulasikan  secara langsung setiap tahapan yang harus dilakukan oleh peserta melalui aplikasi PME berbasis web yang akan digunakan tiap peserta.

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) bekerja sama dengan Yayasan Kasih Suwitno (YKS) membantu Sub Direktorat HIV AIDS dan Penyakit infeksi Menular Seksual Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan lokakarya ini. Kegiatan ini merupakan rangkaian implementasi proyek AMPUH (Accelerating viral load testing aMong PLHIV through SITRUST and High quality laboratories) dalam kegiatan Bulan Viral Load HIV yang akan diselenggarakan secara bertahap di kabupaten kota terpilih selama sisa tahun 2020. Proyek AMPUH dilaksanakan melalui bantuan pendanaan dari The Global Fund.

 

Teks: Melya Findi, Flora Parapat
Editor: Alva Juan