EMPATI – Evaluasi Nasional Uji Coba Tahap awal, Pemanfaatan Aplikasi Empati di 3 Kota Dalam Mendampingi Pasien TBC RO

Uji coba penggunaan aplikasi EMPATI dalam pendampingan pasien TBC Resistan Obat (TBC RO) oleh komunitas dilakukan secara dua tahap. Tanggal 9 September 2020 lalu, telah dilakukan evaluasi nasional uji coba tahap awal bagi komunitas pendamping pasien TBC RO di 3 Kota; Tangerang selatan, Jakarta Timur dan Bandung. Kegiatan ini juga menjadi dasar bagi pengembangan EMPATI tahap kedua. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring melalui zoom yang bertujuan untuk mengevaluasi penggunakan EMPATI yang telah digunakan sejak akhir Juli 2020. Evaluasi ini bertujuan untuk mendapatkan masukan serta upaya perbaikan secara teknis agar tetap maksimal dalam membantu proses pendampingan pasien TBC RO.

Kegiatan ini dihadiri oleh Subdit TB Kementerian Kesehatan, Aisyiyah, POP TB Indonesia, dan LKNU. Uji coba ini berupaya menggali beberapa indikator yang menjadi masukan untuk pengembangan aplikasi EMPATI. Indikator tersebut meliputi identifikasi masalah terkait alur penggunaan aplikasi EMPATI dalam melakukan pendampingan pasien TBC RO oleh komunitas, software aplikasi EMPATI, implementasi uji coba aplikasi EMPATI dari aspek pasien, organisasi, dan pendanaan serta indikator status pengobatan dan kepatuhan pasien. Dari hasil pertemuan ini disepakati adanya pertemuan evaluasi nasional untuk menindaklanjuti hasil monitoring dan evaluasi di tahap awal.

Kegiatan ini juga membahas mengenai pertemuan tindak lanjut Integrasi SITB-EMPATI, serta rencana tindak lanjut alur pendampingan pasien TBC RO oleh komunitas menggunakan EMPATI. Dalam pertemuan ini juga disepakati untuk menambahkan variabel pengembangan aplikasi EMPATI dalam mendukung indikator angka memulai pengobatan dan kepatuhan pengobatan pasien TBC RO. Dalam paparan yang disampaikan, dr. Luki, Kasie TBC RO Subdit TB Kemenkes. menyampaikan terkait indikator persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan aplikasi dan manfaat penggunaan aplikasi. Menurutnya aplikasi EMPATI mudah digunakan dan bermanfaat sesuai dengan tujuannya melakukan pemantauan pendampingan pasien TB RO oleh komunitas

“Adanya aplikasi EMPATI harus bisa dimanfaatkan oleh pengguna dalam pendampingan pasien dan pemantauan, namun jangan sampai tumpang tindih dengan program lain, termasuk harus terlapor di SITB sebagai sistem pencatatan nasional,” ujar dr. Luki.

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengembangkan beberapa aplikasi untuk membantu program tuberkulosis di Indonesia. Pengembangan EMPATI dilakukan sejak tahun 2018 sebagai upaya memperkuat sistem pendampingan pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) oleh komunitas yang sesuai dengan Panduan Penemuan Kasus dan Pendampingan Pasien TBC RO yang disepakati Bersama Kementerian Kesehatan dengan organisasi berbasis komunitas dan organisasi pasien TBC. Setelah pengembangan aplikasi selesai, EMPATI siap untuk dilakukan uji coba pelaksanaan di lapangan secara bertahap.

 

Teks dan foto: Taufiq Priyo Utomo
Editor: Melya Findi dan Erman Varella