TAHUTB:  Mengapa Pasien TBC Perlu Mendapatkan Nutrisi yang Seimbang?

TBC merupakan penyakit menular yang sering dihubungkan dengan aspek kemiskinan, kurang gizi, serta masalah kekebalan tubuh yang buruk. Morbiditas dan mortalitas terkait TBC kerap terjadi di negara berkembang. Dari data Global TBC report 2020, 8 negara dengan beban TBC tertinggi diantaranya, Indonesia, India, Bangladesh, Pakistan, Nigeria, dan lainnya. Diperkirakan 2,2 juta orang terkena TBC adalah mereka yang kekurangan gizi. Masalah gizi merupakan faktor resiko tertinggi untuk kasus TBC.

Dari guideline WHO mengenai TBC dan Nutrisi, disebutkan bahwa pengobatan TBC harus mempertimbangkan standar perawatan untuk penderita TBC.  Adapun tujuan dari perawatan komprehensif tersebut perlu meningkatkan kesehatan pasien, salah satunya dengan memperhatikan asupan makanan dan pemenuhan gizi. Upaya ini merupakan bagian integral dari promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Seperti disebutkan di awal bahwa kekurangan gizi merupakan faktor risiko dan konsekuensi dari beban TBC, sehingga bisa dikatakan mahwa malnutrisi merupakan penyakit penyerta yang umum bagi orang dengan TBC aktif. 

Malnutrisi sendiri merupakan istilah umum yang dipahami sebagai kondisi kelebihan atau kekurangan gizi atau bahkan keduanya. Kurang gizi mengacu pada keadaan status gizi orang tersebut sub-optimal sehingga kesehatan dan pertumbuhan terbatas. Kondisi kekurangan gizi kerap menjadi faktor risiko penyakit yang mengganggu asupan nutrisi dan metabolisme akibat asupan yang tidak memadai baik secara makronutrien, mikronutrien atau keduanya.

Asupan nutrisi penting dikonsumsi oleh seseorang untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan, terlebih juga bagi pasien TBC yang tengah menjalani pengobatan. Nutrisi dibutuhkan untuk membantu mendukung sistem kekebalan tubuh serta memperbaiki jaringan tubuh guna menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Adapun jenis-jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh diantaranya makronutrien (protein, karbohidrat dan lemak) umumnya dikonsumsi dalam jumlah besar. Karbohidrat dan sebagian lemak diubah menjadi energi, sedangkan protein dan sebagian lemak digunakan untuk mendukung komponen struktural dan fungsional jaringan manusia. Sementara mikronutrien (vitamin dan mineral) dikonsumsi dalam jumlah kecil dan penting untuk proses metabolisme. Keduanya dibutuhkan oleh tubuh untuk membantu regenerasi jaringan dan integritas sel dalam tubuh

Dalam guideline WHO mengenai TBC dan Nutrisi disebutkan bahwa kekurangan gizi umumnya dikaitkan dengan penyakit dan infeksi penyakit menular, termasuk TBC dan HIV. Orang yang terpapar TBC dapat mengalami kekurangan gizi, akibatnya melemahkan sistem kekebalan tubuh. Sehingga meningkatkan kemungkinan TBC laten akan berkembang menjadi TBC aktif.  Kebanyakan orang dengan TBC aktif berada dalam keadaan penyusutan otot (katabolik) dan mengalami penurunan berat badan dan beberapa menunjukkan tanda-tanda kekurangan vitamin dan mineral saat diagnosis.

Penurunan berat badan di antara mereka yang menderita TBC bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain berkurangnya asupan makanan akibat hilangnya nafsu makan, mual dan sakit perut, kehilangan nutrisi dari muntah dan diare dan perubahan metabolisme yang disebabkan oleh penyakit. Kurangnya penambahan berat badan dengan pengobatan TBC, dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dan kekambuhan TBC dan dapat menjadi indikasi keparahan TBC.

Asupan nutrisi seimbang sangat penting dalam mendukung proses penyembuhan pasien TBC, diantaranya adalah:

  1. Meningkatkan berat badan, kekuatan otot, dan kualitas hidup
  2. Mengurangi kematian
  3. Memberikan waktu yang lebih singkat untuk konversi dahak dan penyembuhan mikrobiologis yang lebih lanjut
  4. Meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.

Sejumlah bukti yang dikutip dari laman tbfacts.org yang menunjukkan kondisi pasien dengan TBC berkaitan dengan aspek kekurangan gizi, diantaranya meningkatnya keparahan dan kematian yang lebih tinggi, tubuh tidak mampu menyerap obat-obatan (malabsorbsi) seperti rifampisin, peningkatan kekambuhan setelah penyembuhan, waktu perubahan hasil tes sputum dari BTA positif di awal pengobatan menjadi BTA negatif tertunda, dan meningkatkan risiko kejadian TBC pada kontak yang kurang gizi.

Dalam petunjuk who.org mengenai TBC dan nutrisi ini juga disebutkan  empat rekomendasi utama dalam dukungan perawatan dan pemenuhan nutrisi bagi pasien TBC, diantaranya:

  1. Peningkatan dan penguatan infrastruktur perawatan nutrisi
  2. Meningkatkan koordinasi layanan kesehatan bagi masyarakat
  3. Investasi dalam pengembangan kapasitas dan pelatihan pekerja perawatan kesehatan
  4. dalam penggunaan pendekatan berbasis bukti untuk penilaian gizi dan konseling.
  5. Meningkatkan kolaborasi dengan program kesehatan lain, seperti HIV, imunisasi dan layanan reproduksi.

Dengan mengetahui status gizi seorang pasien TBC dan tingkat keparahan penyakit TBC pasien, maka seorang Ahli Nutrisi akan dengan cermat melakukan perencanaan pemberian makanan bergizi seimbang sesuai derajat keparahan penyakit TBC yang tentu akan mempercepat proses penyembuhan pasien TBC. Walaupun pemberian nutrisi seimbang untuk pencegahan TBC dan hasil kesehatan orang dengan TBC sebelumnya belum pernah ditinjau secara sistematis serta pemberian gizi tidak termasuk dalam paket untuk meningkatkan kepatuhan pasien berobat, namun penatalaksanaan pasien TBC secara komprehensif dengan manajemen Gizi yang sesuai terbukti sangat membantu proses penyembuhan pasien TBC.

 

Sumber:

  1. Guideline: Nutritional care and support for patients with tuberculosis. Geneva: World Health Organization; 2013. Akses di https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/94836/9789241506410_eng.pdf;jsessionid=FFE2FC91DC362BE28ACB558B4CBD7808?sequence=1
  2. https://tbfacts.org/nutrition-tb/
  3. Global TB Report 2020

 

Editor: Melya Findi, Damianus Wera
Gambar: Amadeus Rembrandt