TAHUTB: Bagaimana memberi dukungan nutrisi pada pasien TBC?

Tuberkulosis (TBC) dan malnutrisi memiliki kaitan erat. TBC dapat memperburuk kondisi malnutrisi, demikian pula sebaliknya malnutrisi memperburuk kondisi orang yang sakit TBC. Malnutrisi sering dianggap sebagai kondisi orang yang kekurangan asupan makanan. Dalam sebuah artikel yang dikutip dari tbfacts.org, disebutkan bahwa malnutrisi merupakan kondisi orang yang kekurangan gizi maupun kondisi orang yang makan terlalu banyak, yaitu mereka yang mengalami obesitas.  Dalam konteks TBC, malnutrisi yang berpengaruh cenderung kepada gizi kurang, suatu kondisi dimana seseorang yang mendapatkan asupan gizi yang kurang dari yang seharusnya.

Mayoritas orang dengan sakit TBC cenderung mengalami penurunan berat badan. Penurunan berat badan pada penderita TBC dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain berkurangnya asupan makanan akibat hilangnya nafsu makan, mual, dan sakit perut. Kekurangan gizi juga berdampak pada pelemahan kemampuan tubuh untuk melawan penyakit.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa kekurangan gizi dapat meningkatkan kemungkinan TBC laten berkembang menjadi penyakit TBC aktif.

Meskipun ada kaitan erat antara sakit TBC dan kecukupan gizi, malnutrisi atau gizi kurang bukan penyebab utama penyakit TBC. Sakit TBC hanya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTb). Hanya saja kondisi malnutrisi pada orang yang memiliki kontak erat dengan pasien dengan sakit TBC, dapat meningkatkan risiko penularan infeksi TBC.

Dalam artikel tbfacts.org seseorang yang sakit TBC disarankan untuk makan tiga kali sehari disertai camilan tiga kali sehari guna meningkatkan jumlah kalori yang dikonsumsi. Fakta lain juga menunjukkan bahwa TBC jarang ditemukan di negara maju, melainkan banyak ditemukan di negara berkembang seperti India dan Indonesia yang bahkan menurut Global TB Report 2020 menempati urutan pertama dan kedua negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Berikut sejumlah prinsip dalam memberikan perawatan dan dukungan nutrisi bagi pasien TBC, yaitu:

  1. Ketika kekurangan gizi diidentifikasi saat diagnosis TBC, maka TBC harus dianggap sebagai penyebab utama yang perlu ditangani.
  2. Pola makan yang memadai diperlukan untuk kesejahteraan dan kesehatan semua orang, termasuk mereka yang menderita sakit TBC.
  3. Karena hubungan dua arah yang jelas antara kekurangan gizi dan sakit TBC, maka dukungan untuk pemenuhan status gizi dan konseling merupakan bagian penting dari pengobatan dan perawatan TBC.
  4. Kemiskinan dan kerawanan pangan adalah faktor utama meningkatnya kasus TBC. Mereka yang terlibat dalam upaya penanggulangan TBC memainkan peran penting dalam mengenali dan mengatasi masalah sosial ekonomi ini.
  5. TBC biasanya disertai dengan penyakit penyerta seperti HIV, diabetes, merokok, dan alkoholik atau penyalahgunaan zat, yang memiliki implikasi pada status gizi, sehinga hal ini harus dipertimbangkan selama pengkajian gizi dan konseling.

Melihat hubungan yang erat antara malnutrisi dan TBC aktif, maka penilaian dan penatalaksanaan gizi merupakan bagian penting dari pengobatan dan perawatan TBC bagi banyak orang dengan TBC. Upaya ini harus dilakukan sebelum pemberian dukungan nutrisi yang sesuai. Penilaian nutrisi dapat bervariasi menurut kelompok populasi. Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Dalam buku penilaian status gizi oleh I Dewa Nyoman Supariasa, penilaian secara langsung meliputi antropometri, biokimia, klinis dan biofisik. Sedangkan penilaian secara tidak langsung meliputi survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi.

 

Sumber:

  1. https://tbfacts.org/food-tb/
  2. http://www.litbang.kemkes.go.id:8080/handle/123456789/77527

 

 Editor: Melya Findi, Alva Juan

 Gambar: Amadeus Rembrandt