SOBATTB: Lindungi Keluarga Dengan Pencegahan Tuberkulosis Melalui TPT

Tidak semua orang tahu bahwa terapi pencegahan TBC atau TPT merupakan salah satu strategi penting dalam eliminasi TBC selain diagnosa dan pengobatan. Meski tidak ditemukan gejala TBC, orang yang bakteri TBC perlu memperoleh terapi pencegahan tuberkulosis untuk mencegah bakteri TBC bertambah banyak dan menyebabkan sakit TBC. Pemberian TPT ini pun harus dilakukan setelah berkonsultasi dengan petugas kesehatan. Hal ini yang kemudian diketahui oleh Patih (50), ayah dua orang anak yang saat ini tinggal dengan ibu mertua yang sedang menjalani pengobatan TBC.

’’Awalnya yang saya tahu adalah orang yang minum obat hanya yang sakit TBC, tapi ternyata tidak, kami yang memiliki kontak erat dan tinggal serumah juga harus minum obat untuk pencegahan agar tidak tertular TBC,” ujar Patih.

Patih tinggal bersama istri, kedua anaknya, dan ibu mertua. Ibu mertua yang juga memiliki riwayat diabetes ini awalnya mengalami batuk selama beberapa minggu dan tidak kunjung sembuh meski sudah diberi obat. Patih kemudian membawa ke Puskesmas dan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dahak. Dari hasil diagnosa tersebut diketahui bahwa ternyata ibu mertua positif TBC. Dokter kemudian menganjurkan ibu mertua untuk menjalani pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) selama enam bulan, dan sudah berjalan selama tiga bulan sejak November 2020. Meski dari hasil cek dahak hasilnya negatif, namun pengobatan tetap harus dilakukan hingga selesai pengobatan selama masa enam bulan.

Meski demikian penanganan TBC tidak sampai di sini. Dokter Anna, dokter puskesmas yang menangani ibu mertua Patih mengatakan bahwa Patih dan keluarga juga harus melakukan terapi pengobatan untuk pencegahan TBC. 

”Dokter Anna menjelaskan kepada kami mengapa kami harus melakukan pengobatan pencegahan ini, dan dari penjelasan ini saya paham bahwa bakteri TBC ini bisa menular dengan cepat, terlebih ketika kita berada di tempat tinggal yang sama dengan mereka yang positif,” ujar Patih menceritakan pengalamannya.

Patih, istri dan salah satu anaknya yang berusia 7 tahun kini sudah menjalani tiga minggu masa pengobatan pencegahan TBC. Sementara anak bungsunya yang masih di bawah lima tahun tidak diberikan. Pengobatan ini harus dijalani selama 12 minggu. Setiap Senin pagi, sebelum berangkat ke kantor, Patih menyempatkan diri pergi ke Puskesmas untuk mengambil obat. Obat ini nantinya harus diminum keesokan harinya di pagi hari.

Sama halnya dengan OAT, pengobatan TPT pun juga memiliki efek samping yang berbeda antara satu orang dengan lainnya. Patih sendiri tidak mengalami efek samping apapun, namun istri dan anaknya mengalami efek mual selama hanya beberapa menit setelah minum obat. Meski demikian Patih selalu mendorong istri dan anaknya untuk tetap minum obat agar tetap sehat dan tidak terinfeksi TBC.

”Pengobatan TPT ini memberikan rasa aman bagi saya, istri dan anak saya. Kami juga menjadi lebih tenang dan tidak takut tertular. Tapi meski demikian kami juga tetap menerapkan protokol kesehatan di rumah, seperti menggunakan masker, terutama bagi ibu mertua, isolasi mandiri selama dua bulan pertama, dan memisahkan peralatan makan yang digunakan ibu mertua,” terang Patih.

Meskipun TBC dapat disembuhkan, namun hingga kini TBC masih menjadi beban tinggi baik secara global dan di Indonesia. Sehingga upaya penerapan pengobatan TPT dalam hal ini kontak erat, tentunya menjadi langkah penting mencegah meningkatnya angka kejadian TBC. TPT juga menjadi upaya bersama dalam melindungi anak untuk tumbuh kembang optimal di lingkungan yang sehat. Menjaga mereka tetap sehat tentunya menjadi salah satu upaya mewujudkan hak anak.

 

Teks: Melya
Editor: Rerin Alfredo
Foto: Patih