Bagaimana Mengolah Masker Sekali Pakai Agar Tidak Menjadi Limbah Bagi Lingkungan?

Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, tidak hanya memberikan beban dalam pelayanan Kesehatan, namun justru memberikan masalah baru bagi lingkungan. Hal ini berkaitan dengan limbah/sampah medis, seperti masker sekali pakai (masker medis) yang dibuang sembarangan. Dilansir dari cnn.com, disebutkan bahwa ada sebuah insiden yang menjadi berita utama di Inggris dimana seekor burung camar diselamatkan oleh Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA) di kota Chelmsford setelah kakinya terjerat tali masker sekali pakai selama seminggu.

Dalam kasus lain, terlihat beberapa ekor monyet sedang mengunyah tali dari masker bekas yang dibuang di perbukitan di luar ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur. Hal ini tentu menimbulkan potensi bahaya tersedak bagi monyet-monyet tersebut, serta banyak kasus limbah masker mengganggu ekosistem laut.

Masker terbukti efektif untuk mencegah penularan maupun melindungi diri dari paparan virus corona maupun penyakit menular lainnya seperti tuberkulosis. Meskipun demikian, limbah masker sekali pakai yang tidak diolah dengan benar justru akan menimbulkan masalah kesehatan lain, serta berbagai persoalan lingkungan.

Hingga saat ini, tim riset LIPI mencatat limbah medis sudah dalam jumlah yang terbilang mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dihimpun LIPI dari Maret sampai September 2020 saja, terdapat 1.662,75 ton limbah medis.

Apa dampak membuang limbah medis sembarangan bagi lingkungan?

  1. Keberadaan sampah masker sekali pakai pakai dapat memunculkan kontaminasi penyakit baru lainnya bagi masyarakat
  2. Pengguna masker sekali pakai yang membuang masker bekas tanpa menggunting tali karetnya, dapat menjadi bencana bagi berbagai jenis fauna.
  3. Material dasar masker sekali pakai (masker medis) yang sulit terurai dan berbahaya bagi lingkungan apabila tidak diolah dengan benar

Jadi, bagaimana cara membuang masker medis bekas sekali pakai dengan benar?

  1. Mengumpulkan masker bekas yang sudah tidak digunakan
  2. Melakukan desinfeksi pada masker bekas untuk membunuh bakteri yang masih menempel
  3. Menggunting tali dan mengubah bentuk masker untuk menghindari masker digunakan kembali
  4. Memasukkan rapat masker bekas dalam kantong dan membungkus rapat
  5. Membuang kantong di tempat sampah domestik
  6. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir

Dilansir dari The Conversation, limbah sampah plastik juga perlu tempat penampungan sementara (TPS) atau depo transit. Badan kesehatan dunia, WHO dan badan kesehatan publik di Inggris menyarankan memasukkan limbah alat pelindung diri (APD) ke dalam kantung plastik kuning dua lapis dan didiamkan selama 72 jam di tempat penampungan sementara sebelum dibuang di fasilitas pengolahan akhir. Hal ini bertujuan agar virus sudah mati sebelum ditangani di fasilitas pengolahan akhir. Selain itu, juga perlu dilakukan proses penguapan menggunakan autoklaf sebagai pengganti metode pembakaran untuk mencegah lepasan persistent organic pollutants (POPs) atau senyawa organik beracun yang dapat bertahan lama di lingkungan.

WHO justru merekomendasikan masyarakat umum dapat menggunakan masker kain tiga lapis (non-medis). Masker kain tiga lapis ini dirasa cukup untuk dapat menahan percik renik (droplet) dan memiliki tingkat filtrasi yang cukup baik untuk mengurangi potensi penularan. Masker kain dapat berkali-kali digunakan dengan cara dicuci. Hal ini tentunya dapat menekan jumlah limbah masker medis sekali pakai. Limbah medis merupakan jenis limbah infeksius yang perlu penanganan khusus untuk mengurangi risiko penularan penyakit dan pencemaran lingkungan.

Bahan masker medis sekali pakai juga tidak dapat terurai dalam waktu cepat bahkan ketika pandemi selesai. Sehingga peningkatan jumlah limbah medis semasa pandemi menekankan pentingnya untuk menjaga kesehatan lingkungan. Hal ini tidak hanya menjadi peran pemerintah, namun juga seluruh lapisan masyarakat.

  

Sumber:

 

Editor: Melya, Alva Juan
Gambar: Amadeus Rembrandt