MANDIRI TB: Rangkaian Kegiatan Penguatan Kapasitas Bagi Organisasi Pasien TBC RO dari 4 Provinsi

Program pengendalian TBC telah menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Upaya penanggulangan tuberkulosis di Indonesia tahun 2020-2024 diarahkan untuk mempercepat upaya Indonesia untuk mencapai eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030, serta mengakhiri epidemi tuberkulosis di tahun 2050. Guna mendukung upaya ini, Yayasan KNCV Indonesia (YKI) bersama Persatuan Karya Dharma Kesehatan (Perdhaki) melalui pendanaan USAID melaksanakan program Mobilisasi Jejaring Untuk Kemandirian Melawan Tuberkulosis (Mandiri-TB) di 4 kota, yaitu Medan (Sumatera Utara), Jakarta Utara (DKI Jakarta), Surabaya (Jawa Timur) dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Program yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas CSO dan organisasi pasien ini, sebelumnya telah dilakukan Kick Off pada tanggal pada tanggal 7 Januari 2021. Dalam rangkaian implementasi program ini, YKI menyelenggarakan tiga kegiatan berturut-turut bagi komunitas pendamping pasien, yang meliputi lokakarya pendampingan pasien TBC Resistan Obat (RO) terintegrasi dengan teknik komunikasi motivasi, lokakarya penguatan kapasitas organisasi dalam advokasi, dan lokakarya penguatan kapasitas organisasi dalam penulisan proposal.

Kegiatan penguatan kapasitas ini diselenggarakan pada tanggal 14-27 Maret 2021 di Kota Bandung. Kegiatan ini dihadiri oleh organisasi pasien dari keempat kota, yaitu PESAT Medan, PETA Jakarta, Rekat Surabaya, Kareba Baji Makassar. Serta hadir juga dalam kegiatan ini dari organisasi POP TB Indonesia, dan PERDHAKI. Khusus untuk kegiatan lokakarya pendampingan pasien TBC Resistan Obat (RO) terintegrasi dengan teknik komunikasi motivasi turut dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kesehatan dan Petugas Kesehatan dari fasyankes terpilih di keempat kota.

Penulisan proposal dan advokasi merupakan salah satu kunci penting yang perlu dimiliki oleh organisasi pasien dalam mendukung kemandirian organisasi, utamanya dalam pendanaan kegiatan yang berkesinambungan. Dalam lokakarya penulisan proposal ini, peserta diberikan materi mengenai teknik dasar terkait pembuatan kerangka proposal, profil organisasi, serta teknik penulisan proposal untuk CSR. Selain itu peserta yang berasal dari organisasi pasien juga diberikan penguatan dalam teknik advokasi sehubungan dengan kebijakan anggaran untuk program tuberkulosis. Lebih lanjut, untuk pendampingan pasien TBC RO dibutuhkan teknik komunikasi motivasi untuk dapat mendukung pasien TBC RO untuk dapat memulai pengobatan, dalam pengobatan hingga pasien menyelesaikan pengobatan. Pendampingan ini dilakukan oleh berbagai unsur, mulai dari petugas kesehatan hingga komunitas (dalam hal ini pendamping pasien dan kader). Diharapkan peserta yang mengikuti lokakarya ini dapat menjadi fasilitator untuk penguatan pendamping pasien dan kader di masing-masing kota.

Dalam rangkaian kegiatan ini hadir juga dr. Imran Pambudi, Koordinator Tuberkulosis Subdirektorat TB Kementerian Kesehatan. Beliau membuka pelaksanaan kegiatan lokakarya pendampingan pasien TBC Resistan Obat (RO) terintegrasi dengan teknik komunikasi motivasi. Dalam pembukaannya beliau menyampaikan bahwa angka temuan kasus TBC cukup tinggi, meski demikian hal ini tidak diimbangi dengan angka mulai pengobatan pasien.

’’Ini menjadi PR bagi pendamping agar bagaimana temuan kasus ini dapat diimbangi dengan angka pengobatan pasien TBC RO,’’ ujar dr. Imran dalam paparannya.

Selain itu, rendahnya angka keberhasilan pengobatan merupakan salah satu dari tiga masalah utama penanggulangan TBC RO di Indonesia. Pendamping pasien memiliki kontribusi besar untuk membantu dalam upaya peningkatan dukungan pengobatan bagi pasien TBC RO. Pentingnya peran pendamping ini tentunya perlu didukung dengan pengembangan kapasitas untuk membantu dalam proses pendampingan pasien TBC.

''Kami sangat beruntung bisa mengikuti sesi pelatihan peningkatan kapasitas pendidik sebaya. Kami sekarang punya pengalaman bagaimana cara membuat proposal dan juga company profile yang menarik bagi para donatur lokal, nasional dan internasional, serta bagaimana cara melakukan komunikasi dua arah yang baik dengan pasien,'' ujar Purwa, Ketua Organisasi Pasien Rekat Surabaya yang juga peserta dalam kegiatan ini.

Program Mandiri-TB diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan akses pendanaan kegiatan dukungan pasien TBC RO baik yang bersumber dari pemerintah lokal maupun dari korporat melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, program Mandiri TB juga diharapkan berperan dalam memfasilitasi organisasi masyarakat lokal dan organisasi pasien sebagai mitra implementasi untuk memastikan pemberian dukungan psikososial yang berkualitas bagi pasien TBC RO.

 

Teks: Melya
Editor: Melinda Soemarno
Foto: Riska Gininda A