Sosialisasi dan Pengenalan Skrining Mandiri Gejala TBC Pada Anak di Lingkungan Sekolah

Setiap detik berharga, selamatkan bangsa dari tuberkulosis, yang merupakan tema nasional pada Hari Tuberkulosis Sedunia 2021 menjadi pengingat bahwa tidak banyak waktu yang kita miliki untuk mencapai target eliminasi TBC 2030. Cita-cita ini tidak hanya untuk mewujudkan masyarakat bebas TBC namun juga untuk melindungi anak-anak dari bahaya tuberkulosis. Anak-anak merupakan kelompok rentan yang dapat dengan mudah terpapar bakteri TBC.

Mengingat pentingnya pencegahan TBC bagi anak di lingkungan sekolah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan sosialisasi penilaian mandiri TBC dan HIV bagi warga satuan pendidikan. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka mendukung penyediaan jaminan kesehatan masyarakat yang berkualitas dan integratif pada satuan pendidikan. Terkait dengan HIV, dr. Pramono dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta membawakan materi mengenai kesehatan reproduksi, narkoba dan gaya hidup serta pornografi.

Dalam acara ini, dr. Vita dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta memberikan paparan mengenai TBC dan bagaimana pencegahan TBC pada anak. Pencegahan menjadi salah satu kunci penting yang dapat dilakukan untuk menghindari penularan kuman TBC. Oleh sebab itu edukasi di lingkungan sekolah penting dilakukan agar anak-anak mengenal dan memahami penyakit TBC.

”Saya menitipkan 3 hal penting untuk diterapkan, yaitu cara menggunakan masker, 6 langkah cuci tangan dan etika batuk, agar penyakit ini dapat kita kendalikan dengan baik, sehingga anak-anak kita dapat terhindar dari penyakit TBC,” ujarnya dalam paparannya.

Acara yang diselenggarakan secara daring ini dihadiri oleh 956 peserta yang berasal dari Kepala Sekolah SDN, Kepala SMPN, Kepala SMAN, Kepala SMKN, dan Kepala PKBM Negeri se DKI Jakarta.

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) dalam acara ini turut berkontribusi dalam memberikan paparan mengenai tools skrining mandiri gejala TBC untuk anak di sekolah. dr. Jhon Sugiharto, Direktur Executive YKI membuka paparan ini. Dalam pernyataannya beliau mengatakan bahwa skrining mandiri ini dikembangkan untuk mendukung upaya penemuan kasus TBC di lingkungan sekolah.

Didi Lazuardi, Technical Officer Yayasan KNCV Indonesia memaparkan tools yang dikembangkan melalui mekanisme google form dan bagaimana metode pengisiannya. Ada sejumlah pertanyaan untuk skrining TBC pada anak yang berusia kurang dari 15 tahun, seperti keluhan batuk, demam, letih/lemah/lesu dan penurunan berat badan dalam 2 bulan terakhir, kontak serumah dan lainnya. Skrining ini dapat diakses melalui https://bit.ly/skriningTBCusiasekolah.

’’Untuk informasi mengenai TBC dan juga sarana edukasi lain seputar TBC dapat diakses melalui aplikasi SOBAT TB yang dapat diunduh melalui playstore,” ujar dr. Didi dalam paparannya.

Skrining ini harapannya dapat meningkatkan upaya penemuan kasus tuberkulosis terutama di lingkungan sekolah. Diharapkan skrining mandiri ini dapat dimanfaatkan oleh pihak sekolah semaksimal mungkin. Terlebih dalam upaya penemuan kasus TBC RO sehingga dapat segera ditangani dan mendapatkan pengobatan yang tepat. Tentunya upaya ini sejalan dengan komitmen dalam tema HTBS tahun ini untuk melindungi bangsa, terutama generasi penerus dari bahaya tuberkulosis.

 

Teks dan foto: Melya
Editor: dr. Didi Lazuardi
Gambar: Amadeus Rembrandt