MANDIRI-TB: Mangkir Pengobatan Merupakan Kendala Utama Pendampingan Pasien TBC RO Wilayah Jakarta

Yayasan KNCV Indonesia bersama Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia melaksanakan program Mobilisasi Jejaring Untuk Kemandirian Melawan Tuberkulosis (Mandiri-TB). Dalam mendukung implementasi proyek ini, YKI bersama organisasi pasien rutin menggelar pertemuan rutin setiap bulannya di masing-masing wilayah. Pertemuan ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan pendampingan (pra pengobatan) pasien TBC Resistan Obat (TBC RO) yang telah dilakukan.

Organisasi pasien Pejuang Tangguh (PETA) di wilayah Jakarta menggelar pertemuan rutin pada tanggal 2 Juni 2021. Kegiatan yang dihadiri oleh 20 peserta ini diselenggarakan secara daring. Dalam pertemuan ini, masing-masing pendamping membagikan proses pendampingan yang dilakukan selama bulan Mei 2021. Dari sesi sharing ini ada sejumlah kendala yang dibagikan yang kemudian menjadi sesi pembelajaran bersama untuk menemukan solusi dalam mengatasi hal tersebut.

“Salah satu kendala yang dihadapi karena pasien mangkir adalah karena efek samping halusinasi yang dihadapi, juga faktor usia. Untungnya ada dukungan keluarga juga yang mendukung,” ujar Edi Junaidi pendamping pasien TBC RO wilayah Jakarta Utara. 

Persoalan pendampingan pasien mangkir juga dialami oleh Tasya Aprilia, Pendamping Pasien TBC RO di wilayah Cilincing. Pasien yang ia damping tersebut sudah mangkir pengobatan sejak paska lebaran lalu hingga saat ini. Hal ini juga dikarenakan efek samping pengobatan yang dialami pasien. Kendala ini juga ternyata didukung karena kurangnya  dukungan keluarga pasien untuk melanjutkan pengobatan TBC RO karena takut adanya penularan COVID19 di fasilitas kesehatan. Sehingga edukasi tentang penularan TBC juga perlu diberikan bagi keluarga, sehingga potensi stigma dalam lingkungan keluarga dapat dihindari.

Desi Kurniasari, pendamping pasien wilayah Pademangan juga menceritakan adanya pasien mangkir karena tidak kuat dengan efek samping dari salah satu pengobatan. Efek yang dia rasakan adalah kepala pusing. Desi telah berkoordinasi dengan petugas fasilitas kesehatan dan Tim Ahli Klinis saat ini tengah mengupayakan untuk mengganti obat tersebut, agar pasien tetap menjalani pengobatan kembali.

Kendala-kendala ini tentunya membuktikan bahwa komunikasi motivasi menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong tidak hanya bagi pasien namun juga bagi keluarga. Hal ini bertujuan agar pasien tetap termotivasi menjalani pengobatan agar tidak adanya risiko putus pengobatan lagi.

Agenda pertemuan ini dilanjutkan dengan sharing pengembangan kapasitas bagi seluruh anggota komunitas terkait dengan komunikasi motivasi. Ully Ulwiyah, Ketua Organisasi PETA membagikan materi mengenai pentingnya menerapkan komunikasi motivasi dalam proses pendampingan. dr. Triftianti Lieke turut menambahkan bahwa penting juga menerapkan komunikasi efektif dengan menggali informasi dari sisi pasien. Hal ini turut mendukung penerapan komunikasi motivasi.

”Yang terpenting adalah tidak hanya informasi yang kita bagikan, namun juga bagaimana cara kita menyampaikannya,” ujar dr. Triftianti Lieke, Technical Officer YKI.

Erman Varella, Technical Officer YKI untuk pendampingan komunitas pun kembali mengingatkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dalam pendampingan karena masih dalam situasi pandemi COVID-19 saat ini. Acara pertemuan ini diakhiri dengan penyusunan rencana kerja tindak lanjut yang akan dilakukan dalam bulan Juni 2021. Selain kegiatan pendampingan rutin, juga akan dilakukan pendistribusian sembako bagi pasien dampingan PETA di sejumlah wilayah di Jakarta, serta pelatihan bagi pendampingan PS (pendamping sebaya) baru.

Program Mandiri-TB melalui dukungan pendanaan dari USAID diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan akses pendanaan kegiatan dukungan pasien TBC RO baik yang bersumber dari pemerintah lokal maupun dari korporat melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, program Mandiri-TB juga diharapkan berperan dalam memfasilitasi organisasi masyarakat lokal dan organisasi pasien sebagai mitra implementasi untuk memastikan pemberian dukungan psikososial yang berkualitas bagi pasien TBC RO.

 

Teks: Melya
Editor: Triftianti Lieke
Gambar: Amadeus Rembrandt