IAS 2021: Perluasan Inovasi Pengobatan dan Uji Diagnostik TBC Untuk Penanggulangan TBC dan HIV

International AIDS Society (IAS) 2021 Conference on HIV Science menekankan pada fakta bahwa orang dengan HIV AIDS (ODHA) sangat berisiko terutama di masa pendemi COVID-19. Ditambah ODHA yang juga merupakan pasien TBC aktif. Salah satu rangkaian dalam acara IAS 2021 menyajikan paparan tentang pengembangan uji diagnostik dan penyediaan pelayanan dalam penanggulangan  TBC-HIV. Paparan yang disajikan berupaya menunjukkan perkembangan situasi TBC dan HIV saat ini, serta menjawab tantangan diagnositik dan pengobatan koinfeksi TBC-HIV selama ini.

Willem Hanekom, Africa Health Research Institute (AHRI), Afrika Selatan merupakan berperan moderator dalam sesi yang menghadirkan tiga pembicara diantaranya Gavin Churchyard, Aurum Institute, Afrika Selatan yang memaparkan mengenai kondisi saat ini epidemi TBC-HIV saat ini, Melvin Spigelman, dari TB Alliance, Amerika Serikat mengenai kombinasi rejimen pengobatan baru/novel, dan Claudia Denkiner, Heidelberg University Hospital yang berbicara mengenai pengembangan uji diagnosis TBC.

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2020, kasus koinfeksi TBC-HIV di tahun 2019 adalah sebanyak 2.1/100 orang tahun, ODHA memiliki risiko terkena TBC 18 kali lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Gavin Churchyard mengatakan bahwa secara global, HIV dikaitkan dengan kasus TBC dimana ODHA lebih berisiko terkena TBC, demikian halnya dengan sejumlah populasi rentan lainnya seperti anak, ibu hamil, kontak erat, pekerja, dan penghuni tahanan. Meski demikian, terapi antiretroviral (ARV) mampu mengurangi risiko TBC dan tidak meningkatkan penularan.

Meski demikian pasien TBC-HIV tidak cukup hanya dengan mengkonsumsi ARV, namun juga obat anti tuberkulosis (OAT). Melvin Spigelman menjelaskan bagaimana evolusi pengobatan TBC sejak tahun 1940 hingga saat ini. Dalam perkembangannya, paduan OAT berangsur mengalami pemendekkan durasi pengobatan. Di tahun 1950s, pengobatan TBC memakan waktu 24 bulan dengan paduan Isoniazid, Pyrazinamid, Cycloserin, dan Kanamisin. Dalam perjalanannya, durasi pengobatan TBC kian pendek hingga saat ini pengobatan TBC peka obat hanya memerlukan masa pengobatan 4 bulan. Tentu ini merupakan hal baik, dimana semakin pendek jangka waktu pengobatan, semakin kecil angka kasus mangkir (loss to follow up.

“Mari kita lihat lebih jauh kedepan, dengan pendanaan yang cukup, Saya yakin ke depan TBC dapat disembuhkan hanya dalam hitungan hari saja, tidak dalam hitungan minggu, bulan atau tahun seperti saat ini,” ujar Melvin.

Mengatasi persoalan TBC tidak selesai hanya dengan pengobatan saja, namun perlu juga upaya penemuan kasus. Upaya diagnosis menjadi penting untuk membantu dalam penemuan kasus aktif TBC agar dapat segera ditangani. Claudia Denkiner menunjukkan kondisi dimana masih ada gap sebesar 2,9 juta pasien tidak memiliki akses untuk diagnosis TBC. Sampel uji diagnostik pada anak menjadi salah satu tantangan karena sulitnya mendapatkan sampel dahak pada anak. Meski demikian, tantangan ini dapat dijawab melalui penelitian-penelitian untuk menemukan alternatif contoh uji selain sputum untuk uji diagnostik TBC pada anak, seperti feses pada studi yang dilakukan oleh KNCV TBC Foundation.

Belajar dari penanganan COVID-19 saat ini, terdapat sejumlah metode untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 yang dapat dimanfaatkan dalam penanganan TBC. Dalam presentasinya, Claudia menyebutkan setidaknya terdapat tiga inovasi baru dalam metode sampling yang dapat dikembangkan untuk mendeteksi TBC. Diantaranya adalah metod apusan dengan material baru, sampling menggunakan masker wajah dengan strip absorban, maupun saliva. Saliva sendiri cukup baik dalam penanganan COVID-19 namun belum terbukti efektif untuk TBC. Apabila metode ini dapat dilakukan, tentu mempermudah dalam pengambilan sampel uji, terutama untuk populasi anak.

Peningkatan penemuan kasus TBC tentunya baik pada pasien HIV positif maupun negatif sehingga dapat membantu dalam penanganan awal yang tepat. Hal ini juga dapat berkontribusi dalam mengurangi potensi risiko kematian pada populasi HIV

 

 

Teks: Melya
Editor: Alva Juan
Gambar: Amadeus Rembrandt