Mandiri-TB: Kolaborasi Kerjasama Melalui Forum Multi Sektor Dalam Mendukung Eliminasi TBC di Kota Jakarta Utara

Di Kota Jakarta Utara, cakupan penemuan kasus TB RO di tahun 2020 hanya 44% (91 dari target 204 kasus). Dari 91 kasus yang dilaporkan, hanya 38% (35 kasus) diantaranya yang memulai pengobatan lini kedua. Angka keberhasilan pengobatan TB RO bagi pasien yang memulai pengobatan di tahun 2019 juga masih rendah, yakni 17% dari target 75%. Diperlukan intervensi yang dapat menyelesaikan akar masalah tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Yayasan KNCV Indonesia melalui program Mandiri-TB mendukung Pemerintah setempat dalam pembentukan Forum Multi Sektor (FMS) Percepatan Eliminasi TB Kota Jakarta Utara pada bulan Maret 2021 lalu. Dalam menindaklanjuti pembentukan FMS ini, maka diselenggarakan pertemuan rutin FMS untuk melakukan evaluasi rencana kerja yang telah disusun bersama sebelumnya dan menyusun rencana kerja selanjutnya.

Pertemuan yang diselenggarakan pada tanggal 23 September 2021 secara daring ini dihadiri oleh 25 peserta yang berasal dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Jakarta Utara, serta anggota FMS seperti Sudinakertransgi, Sudiskominfotik, Sudinsos, Sudin PPAPP, Sudin PRKP, SR Konsorsium Penabulu STPI, Organisasi Pasien PETA, KOPI TB, IDI, PDPI dan perwakilan Tim Ahli Klinis RSPI Sulianti Saroso. Sugiman selaku perwakilan Kesra membuka pertemuan ini. Dalam pernyataannya beliau mengatakan bahwa penanganan TBC masih memerlukan keterlibatan banyak pihak untuk bisa mencapai target eliminasi TBC 2030, sehingga dengan adanya FMS ini maka diharapkan dapat mewadahi kolaborasi bersama dalam mewujudkan hal tersebut.

Acara dilanjutkan dengan paparan oleh dr. Ajeng Sukmawati, Pengelola Program TBC Sudinkes Kota Administrasi Jakarta Utara mengenai situasi TBC di Kota Jakarta Utara saat ini. Beliau mengatakan bahwa masih ada hambatan dan tantangan baik dari segi pasien, program TBC, serta situasi pandemi saat ini. Dari segi pasien misalnya, masih ada pasien yang belum mau berobat atau memiliki pengobatan alternatif. Sementara dari segi program, masih rendahnya angka keberhasilan pengobatan serta ketersediaan obat yang tidak mencukupi.

”Meski demikian kita melakukan adaptasi pada situasi saat ini, seperti misalnya pemantauan menggunakan aplikasi, ataupun skrining melalui penggunaan form online. Sehingga program TBC masih tetap berjalan sesuai dengan protokol kesehatan saat ini,” ujar dr. Ajeng memaparkan apa yang telah dilakukan pemerintah Kota Jakarta Utara dalam mengatasi tantangan dan hambatan penanggulangan TBC.

Acara dilanjutkan dengan paparan mengenai rencana kerja FMS bagi masing-masing sektor oleh drg. Triftianti, Technical Officer Yayasan KNCV Indonesia. Adapun sektor pemerintah memiliki 5 rencana kegiatan dimana salah satunya melaksanakan audiensi dengan Bapak Walikota tentang FMS percepatan eliminasi TBC di Kota Jakarta Utara. Sementara sektor swasta juga memiliki perannya dalam menemukan kasus TBC secara aktif di perusahaan melalui skrining karyawan. Selain itu juga ada sektor lain yang terlibat dalam FMS ini, seperti sektor akademisi, sektor komunitas, sektor media dan sektor profesi kesehatan,

”Fokus kegiatan yang akan dilakukan kedepan pada bulan Oktober hingga Desember salah satunya akan fokus pada finalisasi SK FMS Jakarta Utara serta upaya promotif preventif yang dapat dilakukan melalui kegiatan pembekalan pengetahuan TBC bagi tokoh msyarakat dan tokoh agama, dan sosialisasi TBC bagi masyarakat, karyawan, dan mahasiswa, serta media rilis untuk pendekatan media massa,” ujar dr. Triftianti memaparkan usulan kerja bagi masing-masing sektor.

Program Mandiri-TB melalui dukungan pendanaan dari USAID diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan akses pendanaan kegiatan dukungan pasien TBC RO baik yang bersumber dari pemerintah lokal maupun dari korporat melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu, program Mandiri-TB juga diharapkan berperan dalam memfasilitasi organisasi masyarakat lokal dan organisasi pasien sebagai mitra implementasi untuk memastikan pemberian dukungan psikososial yang berkualitas bagi pasien TBC RO.

 

Teks: Melya
Editor: Triftianti Lieke
Gambar: Amadeus Rembrandt