HARI LUPUS SEDUNIA: FAKTA-FAKTA MENGENAI TUBERKULOSIS (TBC) DAN LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK

10 May 2021

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit sistemik yang ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap antigen tubuh sendiri. Hal ini juga menyebabkan kerusakan organ yang memunculkan reaksi inflamasi. Dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, disebutkan bahwa infeksi merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada LES. Meskipun sebagian besar infeksi disebabkan oleh kuman Gram negatif atau Gram positif, terdapat peningkatan insiden infeksi Mycobacterium tuberculosis pada LES yang juga meningkatkan kematian pasien.

Pasien LES memiliki risiko tujuh kali lipat lebih tinggi untuk terjadinya TBC, terutama pada daerah berkembang yang merupakan endemis yang juga banyak terdapat kasus TBC ekstra paru. Pada pasien LES terjadi sistem imun yang abnormal

dan pasien mendapatkan terapi imunosupresan. Kondisi ini menyebabkan pasien memiliki risiko infeksi yang tinggi, salah satunya infeksi TBC.

Tuberkulosis merupakan infeksi yang paling sering ditemukan pada pasien LES. Pasien LES juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya TBC diseminata, yang merupakan bentuk TBC yang berpotensi menyebabkan penderitanya meninggal dunia. Dalam jurnal ini juga disebutkan sebuah studi dari California Utara, dimana TBC diseminata ditemukan pada 50% pasien LES yang menderita TBC.

Beda Gejala TBC dan LES

Tuberkulosis memiliki gejala gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk dapat disertai dengan darah, demam naik turun lebih dari 2 minggu, berat badan berkurang, nafsu makan berkurang, sesak atau nafas pendek dan lainnya. Sementara lupus, memiliki banyak gejala, tergantung jenis lupusnya. Yang paling sering dijumpai adalah rasa lelah yang ekstrim, ruam khas lupus dan nyeri nyeri sendi.

Bagaimana perawatan TBC pada pasien LES?

Pasien TBC dengan LES perlu melakukan terapi TBC dengan mengikuti pedoman penatalaksanaan TBC pada umumnya. Perlu dilakukan kategorisasi pasien terlebih dahulu, kemudian diberikan terapi kombinasi.

Sementara pada pasien dengan TBC sumsum tulang, tata laksananya sama dengan TB ekstraparu. Untuk TBC milier yang berat dan TBC ekstraparu, terapi lanjutan diperpanjang menjadi tujuh bulan isonikotinil hidrazid (INH) dan rifampisin.

Salah satu bentuk TBC ekstraparu yang jarang ditemukan adalah TBC sumsum tulang. Gejala TBC sumsum tulang biasanya ditemukan anemia, trombositopenia, leukositosis atau leukopenia atau dapat juga dijumpai pansitopenia. Dan angka kematiannya sangat tinggi, mencapai 50–100%. Beberapa faktor yang memengaruhi adalah tingkat keparahan penyakit, status immunocompromised, terapi imunosupresif, dan keterlambatan untuk memulai terapi. Penegakkan diagnosis yang sulit terkadang membuat pasien terlambat untuk didiagnosis dan diberikan pengobatan. Infeksi TBC paru pada pasien ini masih belum dapat disingkirkan, namun balum dapat ditegakkan karena tidak dapat dilakukan pemeriksaan pungsi pleura dan biopsi atas pasien.

Tata laksana TBC sumsum tulang pada pasien LES sama dengan tata laksana TB ekstraparu pada pasien non-LES. Namun, perlu diperhatikan adanya kondisi lain, seperti adanya gangguan fungsi liver atau ginjal yang sering menyertai.

 

Lupus merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang masih menjadi persoalan kesehatan dunia. Hingga saat ini diperkirakan terdapat 5 juta pasien lupus yang tersebar di seluruh dunia dan jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya. Dengan mengenal dan mengetahui faktor risiko dan penyebabnya maka diharapkan masyarakat dapat terhindar.

 

Sumber:
Poespitasari, VI (dkk). Laporan kasus. Tuberkulosis Sumsum Tulang Pada Lupus Eritematosilus Sistemik Berat: Sebuah Studi Kasus. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia |Vol. 5, No.2| Juni 2018

 

Editor: Melya, Triftianti Lieke
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 6 June 2022

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022