INFOCOVID: APA UPAYA MENGHENTIKAN COVID-19 AGAR TIDAK MEMICU PENINGKATAN AIDS, MALARIA, DAN TBC?

19 August 2020

Sebelum munculnya COVID-19, AIDS, malaria, dan TBC (TBC) adalah tiga penyakit menular yang paling mematikan. Dikutip dari laman nature.com, untuk TBC saja telah menyebabkan 1,5 juta kematian setiap tahunnya. Menurut The Global Fund, berdasarkan perkembangan data COVID-19, jumlah kematian akibat COVID-19 diperkirakan dapat mencapai dua kali lipat dalam kurun waktu satu tahun kedepan. Oleh sebab itu, diperlukan upaya nyata untuk menanggulangi hal ini. Pasalnya kebijakan karantina wilayah di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia memiliki sejumlah implikasi seperti terbatasnya kesempatan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan untuk penyakit menular non-COVID, seperti ketiga penyakit tersebut. Terlebih Indonesia merupakan negara dengan beban TBC, malaria dan AIDS yang cukup tinggi di dunia.

Dalam artikel ini, terdapat empat rekomendasi yang dirumuskan dalam upaya untuk menanggulangi COVID-19 tanpa perlu mengabaikan penyakit menular lainnya yang juga membutuhkan perhatian serupa. Hal ini didasarkan sejumlah pemodelan yang dikembangkan mengenai bagaimana COVID-19 berdampak pada ketiga penyakit infeksius ini. Salah satu model yang dikembangkan oleh para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine memproyeksikan akan ada sekitar 200.000 kematian tambahan akibat TBC di wilayah China, India, dan Afrika Selatan antara rentang tahun 2020 dan 2024. Sementara pemodelan berbeda yang dikembangkan Philippe Glaziou dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Program TBC, memproyeksikan adanya tambahan 190.000 kematian TBC secara global pada tahun 2020.

Melihat kondisi ini tentunya perlu langkah tegas dan nyata yang harus segara dilakukan. Berikut adalah empat rekomendasi yang perlu dilakukan berdasarkan rumusan dari Global Fund untuk mengatasi hal ini, antara lain:

  1. Pertama, untuk kasus TBC investigasi kontak harus segera dilakukan kembali setelah sempat terhambat akibat kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selain itu, perlu pengaturan penjadwalan penggunaan fasilitas layanan kesehatan baik untuk menjalankan tes COVID-19 dan pemeriksaan diagnostik TBC sehingga keduanya dapat berjalan. Tes COVID-19 juga dapat dikoordinasikan dengan tes diagnostik cepat untuk HIV dan malaria.
  2. Kedua, peneliti harus terus menyempurnakan pemodelan yang telah dilakukan dengan menggunakan data yang lebih nyata.
  3. Ketiga, perlunya edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai protokol kesehatan serta risiko mengenai meningkatnya penyakit menular
  4. Keempat, perlu dukungan peningkatan pendanaan untuk meningkatkan fasilitas layanan kesehatan, termasuk juga penelitian serta pengembangan pemeriksaan diagnostik, terutama bagi TBC dan COVID-19.

COVID-19 menyebabkan layanan kesehatan bagi penyakit infeksius lainnya sempat terhambat. Meski demikian, di samping upaya penanggulangan COVID-19 berjalan secara masif, layanan bagi ketiga penyakit infeksius termasuk TBC tetap harus berjalan. Dari data Gugus Tugas percepatan Penanganan COVID-19, disebutkan bahwa TBC sebagai urutan kesepuluh sebagai penyakit penyerta terbesar bagi pasien positif COVID-19. Hal ini dikarenakan kondisi pasien TBC yang cenderung memiliki imunitas lemah sehingga rentan terinfeksi COVID-19 dan cenderung memperparah kondisi penderitanya. Oleh sebab itu perawatan dan pengobatan bagi layanan TBC, serta HIV dan Malaria penting untuk tetap berlangsung, guna meminimalisir risiko peningkatan beban ketiga penyakit infeksius tersebut.

Sumber:
https://www.nature.com/articles/d41586-020-02334-0

Editor: Melya Findi, Triftianti Lieke
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022

  • 21 February 2022