MENGAPA PEMERIKSAAN EARLY INFANT DIAGNOSIS (EID) UNTUK BAYI PENTING DILAKUKAN?

7 October 2020

Penularan HIV dari ibu ke anak merupakan salah satu alasan utama peningkatan infeksi HIV pada anak. Badan Organisasi Dunia (WHO) memperkirakan sebanyak 1,7 juta anak berusia 0 – 14 tahun hidup dengan HIV pada akhir 2018, 160.000 anak baru terinfeksi, dan diperkirakan 100,000 anak meninggal karena penyakit terkait AIDS. Melihat tingginya angka kematian dan kesakitan terkait HIV pada populasi rentan ini, maka diagnosis dan pengobatan dini menjadi sangat penting. WHO juga menyebutkan bahwa tanpa adanya akses kepada diagnosis dan pengobatan dini HIV, 50% anak dengan HIV akan meninggal pada usia 2 tahun dan 80% tidak akan hidup sampai ulang tahun kelima.

Dalam upaya untuk pencegahan infeksi HIV pada anak, maka upaya deteksi dini pada ibu dan anak melalui program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) menjadi sangat penting. Upaya ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan Early Infant Diagnosis (EID), yaitu pemeriksaan HIV pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV. Dalam program PPIA dilakukan serangkaian kegiatan yang meliputi pemeriksaan status HIV, perencanaan persalianan, konseling pemberian makanan pada bayi/anak, dukungan nutrisi, dan inisiasi kotrimoksasol. Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk memastikan semua bayi yang terpapar dan anak yang diindikasi terinfeksi HIV diketahui status HIV-nya sehingga sesegera mungkin memperoleh pengobatan dan perawatan.

Menurut WHO, EID bertujuan untuk:

  1. Identifikasi awal bagi bayi yang terinfeksi HIV, sebagai langkah awal menghubungkan pengobatan dan perawatan
  2. Identifikasi bayi yang terpapar namun HIV negatif, untuk memfasilitasi perawatan dan pencegahan lanjutan untuk tetap menjaga mereka tidak terinfeksi
  3. Penggunaan sumber daya secara efektif dengan menargetkan ART pada anak-anak yang membutuhkan pengobatan
  4. Peningkatan kesejahteraan psikososial dari keluarga dan anak, mengurangi potensi stigma, diskriminasi, dan tekanan psikologis pada anak yang tidak terinfeksi dan meningkatkan kemungkinan untuk diadopsi pada anak yatim-piatu
  5. Memfasilitasi perencanaan kehidupan bagi orang tua dan/atau anak dengan HIV

WHO merekomendasikan bayi yang diketahui memiliki risiko paparan HIV harus menjalani tes virologi dalam kurun waktu 6 – 8 minggu setelah kelahirannya. Pemeriksaan virologis merupakan salah satu jenis pemeriksaan HIV AIDS dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Bayi yang baru lahir dari ibu positif HIV wajib melakukan pemeriksaan EID dengan metode ini. Dan jika bayi positif HIV maka perlu memulai terapi antiretroviral (ART). Pemeriksaan EID dapat dilakukan hingga usia anak 18 bulan.

Diagnosis awal HIV sangatlah penting untuk inisiasi pengobatan, perawatan, dukungan, dan pencegahan transmisi HIV dari ibu ke anak. Pemeriksaan EID memungkinkan upaya pengendalian epidemi HIV di Indonesia.

 

Sumber:

  1. https://aidsrestherapy.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12981-019-0245-z
  2. WHO: Topical Information, Treatment of Children Living with HIV, 2020
  3. (2007). Early detection of HIV infection in infants and children: Guidance note on the selection of technology for the early diagnosis of HIV in infants and children.

Editor: Melya, Alva Juan
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 6 June 2022

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022