Program Return to Work Bagi Pasien TBC

27 February 2020

Pada artikel sebelumnya, kita berbicara soal panduan pengendalian tuberkulosis di tempat kerja. Di dalamnya memuat sejumlah pedoman bagi perusahaan dan pekerja untuk dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat bebas TBC. Pekerja dengan TBC aktif memiliki potensi penularan sangat tinggi. Hal ini ditandai dengan ditemukannya hasil pemeriksaan  Basil Tahan Asam (BTA) sputum positif. Pasien dengan BTA positif bisa menulari 10-15 orang di sekitarnya.  Pemeriksaan BTA sputum sendiri adalah prosedur untuk mendeteksi bakteri penyebab penyakit tuberkulosis menggunakan sampel dahak.

Di dalam pedoman ini disebutkan bahwa pekerja dengan TBC aktif disarankan untuk diberikan cuti selama 2 (dua) minggu pada tahap awal pengobatan sampai klinis yang lebih baik dan dapat kembali bekerja setelah dinyatakan pekerja tidak lagi menular. Umumnya pasien TBC tidak lagi menular setelah sekitar dua minggu menjalani masa pengobatan. Namun demikian perlu dilakukan pemeriksaan BTA kembali untuk memastikan risiko penularan di tempat kerja. Pekerja dengan TBC harus mendapat pengobatan dengan optimal sehingga pekerja dengan pemeriksaan BTA sputum negatif dapat bekerja kembali, mengingat mereka tidak lagi memiliki potensi untuk menularkan TBC bagi pekerja lain.

Bagi pekerja dengan TBC Resistan Obat tidak diperbolehkan untuk kembali bekerja sampai mereka telah melakukan pemeriksaan konversi kultur sputum dengan hasil negatif. Sehingga cuti sakit harus diberikan pada pekerja dengan TB Resistan Obat untuk waktu yang lebih lama. Pekerja dengan TBC Resistan Obat dapat segera aktif kembali bekerja setelah menjalani pengobatan serta melalui proses kajian kelaikan kerja yang disesuaikan dengan penyakitnya. Melalui pedoman pengendalian TBC di tempat kerja, pasien TBC yang akan kembali bekerja perlu dirujuk ke Spesialis Okupasi (SpOk).

Menurut ACOEM, American College of Occupational and Environmental Medicine (2008/2013) yang diadaptasi oleh Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI), program kembali kerja adalah suatu program yang diberikan bagi pekerja. Termasuk juga karena penyakit yang disebabkan di lingkungan kerja, untuk membantu mereka melakukan penyesuaian pada pekerjaan semula sesegera mungkin atau secara bertahap, menemukan pekerjaan lain yang sesuai kemampuan fisik, juga mengatasi keterbatasan yang dimiliki untuk melakukan pekerjaannya. Program Kembali Kerja membutuhkan kerja sama dan partisipasi dari perusahaan tempat kerja, pekerja, dan tenaga layanan kesehatan.

Pedoman pengendalian tuberkulosis di tempat kerja ini menjadi harapan bagi pasien TBC yang telah sembuh untuk tidak mendapat dampak baik sosial maupun ekonomi. TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan yang tuntas. Sehingga pasien yang telah sembuh dari penyakit ini dapat beraktivitas kembali. Pedoman ini mendukung para pekerja untuk memperoleh haknya mendapat lingkungan kerja yang sehat dan serta jaminan untuk tetap beraktivitas kembali.

 

Sumber:
Kementerian Kesehatan dan Kementerian Ketenagakerjaan. Panduan Pengendalian Tuberkulosis di Tempat Kerja. Jakarta: 2015

Editor: Melya Findi &  Erman Varella
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 6 June 2022

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022