TAHU TB: Apa Itu TBC HIV dan Bagaimana Pengobatannya?

7 December 2021

Tuberkulosis merupakan penyakit berisiko, terutama bagi orang yang hidup dengan HIV. Orang dengan HIV lebih mungkin terinfeksi TBC dibanding mereka tanpa HIV. TBC sendiri adalah salah satu penyebab utama kematian di antara orang yang hidup dengan HIV. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Sehingga orang dengan HIV memiliki sistem kekebalan tubuh akan menurun sehingga mudah terkena berbagai penyakit, termasuk tuberkulosis.

Penularan HIV dan TBC

Virus HIV dapat menular melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian bagi pengguna narkoba suntik dan jarum untuk membuat tato. Ibu dengan HIV positif juga dapat berpotensi menularkan ke anaknya selama masa kehamilan, melahirkan dan menyusui. yang terakhir adalah melalui transfusi darah yang telah terkontaminasi HIV. HIV menyerang sistem imunitas tubuh. Jika tidak diobati sesegera mungkin, HIV merusakkan sistem imunitas sehingga tidak dapat memerangi infeksi penyakit yang berakibat pada beragam risiko penyakit, bahkan kematian.

Pencegahan Penularan TBC Pada Orang dengan HIV

Untuk mencegah infeksi TBC, ODHIV bisa menjalani Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) jika terbukti dari pemeriksaan Tidak terinfeksi TBC. TPT diberikan selama tiga bulan (dengan obat Isoniazid dan Rifapentin, atau, Isoniazid dan Rifampicin), atau enam bulan (dengan obat Isoniazid) kepada ODHIV yang terbukti tidak terinfeksi bakteri TBC. Menurut Buku Petunjuk Teknis Penanganan Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB) tahun 2020, ODHIV dengan usia kurang dari 2 tahun direkomendasikan menggunakan terapi 3 bulan Insoniazid dan Rifampicin atau 6 bulan Isoniazid tunggal. Sedangkan ODHIV dengan usia lebih dari 2 tahun, direkomendasikan menggunakan terapi 3 bulan Isoniazid dan Rifampentin atau 6 bulan Isoniazid tunggal. Tentunya perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter sebelum mengkonsumsi obat ini.

Selain TPT, pencegahan penularan TBC pada ODHIV adalah dengan meminum ARV (Antiretroviral) secara teratur, memeriksakan diri secara rutin ke dokter minimal 1 kali dalam sebulan, serta menerapkan pola hidup sehat dan etika batuk.

 

Tes dan Pemeriksaan TBC Pada ODHIV

Jika seseorang menderita TBC aktif, maka penting melakukan pemeriksaan HIV untuk memastikan apakah dia menderita HIV atau tidak. Selain itu juga perlu dilakukan tes apakah seseorang dengan HIV juga memiliki TBC aktif maupun TBC laten. Adapun tes yang dapat dilakukan meliputi tes Kulit Tuberkulin (TST), yang juga dikenal sebagai tes Mantoux, rontgen dada, dan juga tes sputum (dahak). Tes ini dilakukan untuk mendeteksi apakah seseorang terpapar TBC melalui kontak erat, ataupun telah terinfeksi TBC.

 

Bagaimana TBC-HIV Diobati?

Ketika seseorang terkena TBC, bakteri TBC secara otomatis sudah menginfeksi paru-parunya. Apabila hal ini terjadi pada penderita dengan status HIV positif maka ia membutuhkan pengobatan secara rutin. Secara umum, Terapi antiretroviral (ART) yang adalah pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus pada pasien HIV diberikan setelah 2-8 minggu pasien TB-HIV mendapatkan OAT (obat anti tuberkulosis).

Orang dengan HIV (ODHIV) yang juga didiagnosis TBC paru tetap dapat dan harus mengkonsumsi OAT selama 6 bulan. Berdasarkan Permenkes 67 tahun 2016, prinsip pengobatan TBC pada ODHIV adalah sama dengan orang tanpa HIV. Hanya saja, pada ODHIV pengobatan perlu diikuti dengan konsumsi obat anti HIV (ARV).

 

Sumber:

https://www.cdc.gov/tb/topic/basics/tbhivcoinfection.htm

Green, Chris W. 2016. Seri Buku Kecil: HIV & TB. Jakarta: Spiritia.

https://www.health.nsw.gov.au/Infectious/tuberculosis/Documents/Language/indonesian-hiv-tb-connection.pdf

 

Editor: Melya, Wera Damianus

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022

  • 21 February 2022