TAHU TB: MENGAPA PELACAKAN KONTAK PENTING DILAKUKAN DALAM UPAYA PENGENDALIAN COVID-19?

21 September 2020

Dalam kasus tuberkulosis, investigasi kontak bertujuan untuk menemukan pasien TBC secara dini. Investigasi kontak ditujukan pada orang-orang yang memiliki kontak dengan pasien TBC untuk menemukan terduga TBC. Nantinya kontak yang terduga TBC akan dirujuk ke layanan untuk pemeriksaan lanjutan dan bila terdiagnosis TBC maka akan diberikan pengobatan yang tepat sesuai standar dan sedini mungkin. Investigasi kontak mempunyai 2 fungsi, yaitu meningkatkan penemuan kasus dan mencegah penularan TBC.

Upaya ini juga kini diterapkan dalam penanggulangan COVID-19. Pelacakan kontak (contact tracing) merupakan upaya menemukan, menilai dan menindaklanjuti orang yang terpapar suatu penyakit. Dalam penelitian berjudul The Efficacy of Contact Tracing for the Containment of the 2019 Novel Coronavirus (COVID-19), disebutkan bahwa pelacakan kontak secara umum sangat efektif dalam mengidentifikasi individu yang berpotensi terinfeksi sebelum gejala parah muncul, dan apabila dilakukan dengan cukup cepat dapat mencegah penularan selanjutnya. Dikutip dari penelitian ini, pelacakan kontak telah terbukti berhasil dalam pengobatan infeksi menular seksual, terlebih pada kondisi infeksi yang sering tidak bergejala dan di mana jangka waktu transmisinya lambat. Penelitian ini ingin membuktikan kapan waktu yang tepat dapat dilakukan pelacakan kontak ketika ada kasus utama muncul di masyarakat.

Dalam penelitian ini, peneliti mengkarakterisasi pola kontak dengan melakukan survei kepada 5,802 responden. Mereka diminta untuk melaporkan jumlah pertemuan selama kurun waktu tertentu, termasuk durasi dan frekuensi pertemuan yang dilakukan. Definisi kontak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah percakapan secara tatap muka dalam jarak 3 m atau terjadi kontak fisik dari individu yang terinfeksi selama 15 menit atau lebih dalam kurun waktu 2 minggu.

Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa pelacakan kontak sebagai upaya yang efektif dalam mengatasi masalah kesehatan di masyarakat, sebagian besar kasus sekunder harus ditemukan dan diisolasi sebelum menjadi menular; Oleh karena itu, waktu dari kasus utama hingga menjadi infeksi sampai dilakukan penelusuran kontak harus lebih pendek dari masa inkubasi. Skala waktu yang lebih lama akan memungkinkan kasus tersier terinfeksi dan berpotensi meningkatkan skala penelusuran yang diperlukan. Selain itu, kontak yang terlacak perlu disaring secara efektif untuk infeksi dan dikarantina atau diisolasi sehingga tidak menimbulkan risiko bagi orang lain.

Penelitian ini juga mengasumsikan bahwa semua orang yang terinfeksi diidentifikasi sebagai kasus, baik mereka yang sudah bergejala maupun yang belum bergejala. Sehingga proses pelacakan kontak yang diidentifikasi dapat segera dilakukan. Sehingga meski dalam kegiatan pelacakan kontak berpotensi terinfeksi COVID-19  (dan patogen kontak dekat lainnya), keberhasilan pelacakan kontak bergantung pada kecepatan dan efektifitas pengendalian dari orang yang dicurigai melakukan kontak

Pelacakan kontak terbukti efektif pada pengendalian TBC sama halnya dengan COVID-19. Ketika pelacakan kontak dilakukan secara sistematik, pelacakan kontak dapat memutus mata rantai penularan penyakit infeksi.

 

Sumber:

  1. https://htbs.tbindonesia.or.id/wp-content/uploads/2020/03/Petunjuk-Teknis-Investigasi-Kontak.pdf
  2. MedRxiv: The Efficacy of Contact Tracing for the Containment of the 2019 Novel Coronavirus (COVID-19) from https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.02.14.20023036v1.article-info
  3. WHO, 2014. Contact Tracing During Outbreak of Ebola Virus Disease. https://apps.who.int/iris/handle/10665/159040

 

Editor: Melya, Yeremia PMR
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 6 June 2022

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022