TAHU TB: TUBERKULOSIS (TBC) PADA SALURAN KEMIH, APAKAH MUNGKIN?

5 July 2020

Paru merupakan organ yang paling sering diserang oleh kuman TBC. Meski demikian, tuberkulosis dapat terjadi hampir di seluruh organ tubuh mulai dari kepala hingga kaki, ini yang kemudian disebut dengan TBC ekstra paru. Organ di luar paru yang dapat terinfeksi TBC antara lain selaput otak, kelenjar getah bening, kulit, selaput paru, selaput jantung, usus, selaput perut, buah zakar dan saluran telur, serta tulang dan sendi, hingga saluran kemih.

Tuberkulosis saluran kemih, sama halnya dengan TBC paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. TBC saluran kemih adalah bentuk TBC ekstra paru kedua yang paling umum terjadi dengan lebih dari 90% kasus terjadi di negara berkembang. Ginjal adalah tempat infeksi yang paling umum dan terinfeksi melalui penyebaran hematogen dari basil, yang kemudian menyebar melalui ginjal dan saluran kemih.

Seorang yang mengalami sakit TBC ekstra paru dapat menunjukkan gejala umum sakit TBC, meliputi demam, menggigil, lemas, penurunan nafsu makan dan berat badan. Selain gejala umum tersebut, keluhan spesifik organ akan dapat ditunjukkan sesuai lokasi sakit TBC.

TBC pada alat kelamin dan atau saluran kenicng biasanya disebut dengan tuberkulosis genitourinari. Adapun gejala yang menyertainya, diantaranya adalah:

  • Sakit perut
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Lebih sering buang air kecil daripada biasanya, terutama di malam hari
  • Sakit di bagian punggung dan tulang rusuk
  • Pembengkakan testis
  • Terdapat sel darah merah di dalam urin

Pengobatan TBC pada saluran kemih umumnya sama dengan TBC paru atau jenis TBC lainnya, yaitu dengan konsumsi OAT selama 6-8 bulan. Meski demikian perlu ada penyesuaian untuk beberapa kondisi yang menginfeksi organ vital, termasuk organ saluran kemih. Berikut manajemen pengobatan tuberkulosis saluran kemih yang dilansir dari statpearls.com.

1. Penanganan medis

Sesuai tatalaksana pengobatan TBC paru, tuberkulosis saluran kemih secara umum diperlakukan seperti TBC paru dengan rejimen empat obat selama 6 bulan, yaitu rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan etambutol selama 2 bulan pertama, kemudian isoniazid dan rifampisin selama 4 bulan.

Pasien dengan TBC resistan obat (MDR-TB) memerlukan pengobatan dengan fluoroquinolones, aminoglikosida, dan obat lain selama 18 sampai 24 bulan.

2. Penanganan lanjutan (operasi)

Pasien dengan komplikasi TBC saluran kemih dengan penyempitan uretra (striktur ureter) dan pelebaran ureter (hydroureter) harus diobati dengan pemasangan ring (stenting) atau nefrostomi perkutan yang bertujuan untuk mengalirkan urine langsung dari ginjal melalui kateter

TBC paru maupun TBC ektra paru dapat dicegah dan disembuhkan. Pasien dalam masa pengobatan perlu menjalani pengobatan hingga tuntas untuk bisa sembuh, serta mengurangi adanya risiko resistansi obat. Selain itu gaya hidup bersih dan sehat perlu dilakukan untuk mendukung proses penyembuhan.

 

Sumber:

  1. https://yki4tbc.org/news-default/299-apa-itu-tbc-ekstra-paru.html
  2. https://yki4tbc.org/news-default/479-hari-ginjal-sedunia-apakah-tbc-bisa-menyerang-ginjal.html
  3. https://www.statpearls.com/ArticleLibrary/viewarticle/30659

 

Editor: Melya, Alva Juan
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022

  • 21 February 2022