Apa itu Tuberkulosis / TBC?

9 November 2022

Tuberkulosis (TBC)

Definisi dan Gambaran Umum TBC

Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang dapat menular melalui udara, disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga sering dikenal dengan istilah Basil Tahan Asam (BTA). Berdasarkan laporan Global TB Report 2022, Indonesia berada pada posisi kedua dengan beban kasus TBC tertinggi di dunia setelah India, naik satu peringkat dari 2020. Diperkirakan, kasus TBC di Indonesia tahun 2021 adalah sebanyak 969.000 orang. Dengan kasus yang ditemukan sebanyak 443.235 kasus. Artinya masih ada 525.765 kasus TBC di Indonesia belum ditemukan dan dilaporkan.

Penyebab TBC

Terdapat 5 bakteri yang berkaitan erat dengan infeksi TB: Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium bovis, Mycobacterium africanum, Mycobacterium microti dan Mycobacterium cannettii.p. Mycobacterium tuberculosis hingga saat ini merupakan bakteri yang paling sering ditemukan, dan menular antar manusia ke manusia melalui rute udara.

Tidak ditemukan hewan yang berperan sebagai agen penularan TBC. Namun, M. bovis dapat bertahan dalam susu sapi yang terinfeksi dan melakukan penetrasi ke mukosa saluran cerna serta menginvasi jaringan limfe orofaring saat seseorang mengonsumsi susu dari sapi yang terinfeksi tersebut. Angka kejadian infeksi M.bovis pada manusia sudah mengalami penurunan signifikan di negara berkembang, hal ini dikarenakan proses pasteurisasi susu dan telah diberlakukannya strategi kontrol tuberkulosis yang efektif pada ternak. Infeksi terhadap organisme lain relatif jarang ditemukan.

Gejala TBC

Gejala TBC

Gejala penyakit TBC tergantung pada lokasi lesi, sehingga dapat menunjukkan manifestasi klinis sebagai berikut:

  1. Batuk > 2 minggu
  2. Batuk berdahak
  3. Batuk berdahak dapat bercampur darah
  4. Dapat disertai nyeri dada
  5. Sesak napas

Dengan gejala lain meliputi:

  1. Malaise
  2. Penurunan berat badan
  3. Menurunnya nafsu makan
  4. Menggigil
  5. Demam
  6. Berkeringat di malam hari

Klasifikasi TBC

Diagnosis dengan konfirmasi bakteriologis atau klinis dapat diklasifikasikan berdasarkan :

  1. Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomis
  2. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan
  3. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat
  4. Klasifikasi berdasarkan status HIV

Faktor Resiko TBC

Terdapat beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit TBC, kelompok tersebut adalah :

  1. Orang dengan HIV positif dan penyakit imunokompromais lain.
  2. Orang yang mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka waktu panjang.
  3. Perokok
  4. Konsumsi alkohol tinggi
  5. Anak usia <5 tahun dan lansia
  6. Memiliki kontak erat dengan orang dengan penyakit TBC aktif yang infeksius.
  7. Berada di tempat dengan risiko tinggi terinfeksi tuberkulosis (contoh: lembaga permasyarakatan, fasilitas perawatan jangka panjang)
  8. Petugas kesehatan

Cara Penularan TBC

Penyakit TBC memang menular dan dapat ditularkan dari orang yang terinfeksi ke orang yang tidak terinfeksi. Cara penularan dapat terjadi terutama ketika seseorang penderita batuk, bersin, berbicara, atau bahkan bernyanyi. Oleh karena itu, penyakit ini dikenal sebagai penyakit yang ditularkan melalui udara. Orang lain yang menghirup bakteri aerosol dapat terinfeksi penyakit ini, namun yang bisa menularkan hanya mereka yang mengidap TBC aktif.

Mekanisme Penularan TBC

Setelah inhalasi, nukleus percik renik terbawa menuju percabangan trakea-bronkial dan dideposit di dalam bronkiolus respiratorik atau alveolus, di mana nukleus percik renik tersebut akan dicerna oleh makrofag alveolus yang kemudian akan memproduksi sebuah respon nonspesifik terhadap basilus. Infeksi bergantung pada kapasitas virulensi bakteri dan kemampuan bakterisid makrofag alveolus yang mencernanya. Apabila basilus dapat bertahan melewati mekanisme pertahanan awal ini, basilus dapat bermultiplikasi di dalam makrofag. Tuberkel bakteri akan tumbuh perlahan dan membelah setiap 23-32 jam sekali di dalam makrofag. Mycobacterium tidak memiliki endotoksin ataupun eksotoksin, sehingga tidak terjadi reaksi imun segera pada host yang terinfeksi. Bakteri kemudian akan terus tumbuh dalam 2-12 minggu dan jumlahnya akan mencapai 103-104, yang merupakan jumlah yang cukup untuk menimbulkan sebuah respon imun seluler yang dapat dideteksi dalam reaksi pada uji tuberkulin skin test. Bakteri kemudian akan merusak makrofag dan mengeluarkan produk berupa tuberkel basilus dan kemokin yang kemudian akan menstimulasi respon imun.
Sebelum imunitas seluler berkembang, tuberkel basili akan menyebar melalui sistem limfatik menuju nodus limfe hilus, masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke organ lain. Beberapa organ dan jaringan diketahui memiliki resistensi terhadap replikasi basili ini. Sumsum tulang, hepar dan limpa ditemukan hampir selalu mudah terinfeksi oleh Mycobacteria. Organisme akan dideposit di bagian atas (apeks) paru, ginjal, tulang, dan otak, di mana kondisi organ-organ tersebut sangat menunjang pertumbuhan bakteri Mycobacteria. Pada beberapa kasus, bakteri dapat berkembang dengan cepat sebelum terbentuknya respon imun seluler spesifik yang dapat membatasi multiplikasinya.

Pemeriksaan TBC

Semua pasien terduga harus menjalani pemeriksaan bakteriologis untuk mengkonfirmasi penyakit TBC. Pemeriksaan bakteriologis merujuk pada pemeriksaan apusan dari sediaan biologis (dahak atau spesimen lain), pemeriksaan biakan dan identifikasi M. tuberculosis atau metode diagnostik cepat yang telah mendapat rekomendasi WHO.

Pada wilayah dengan laboratorium yang terpantau mutunya melalui sistem pemantauan mutu eksternal, kasus TBC Paru BTA positif ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan BTA positif, minimal dari satu spesimen. Pada daerah dengan laboratorium yang tidak terpantau mutunya, maka definisi kasus TBC BTA positif bila paling sedikit terdapat dua spesimen dengan BTA positif. Selain itu, pemeriksaan penunjang juga dapat dilakukan pemeriksaan paru-paru melalui rontgen. Sedangkan TBC ekstra paru, dilakukan pemeriksaan berdasarkan kecurigaan pada daerah yang diserang.

Pemeriksaan Rontgen TBC

Pengobatan TBC

Pengobatan penyakit TBC terbagi dalam 2 fase yaitu:

  • Fase intensif: (2-3 bulan)
  • Fase lanjutan: (4 –7 bulan)

Obat yang dipakai terdiri atas Lini 1 (Obat Utama) dan Lini 2 (Obat tambahan).

Lini 1 (Obat Utama) yaitu:

  • Isoniazid (H)
  • Rifampicin (R)
  • Pyrazinamide (P)
  • Ethambutol (E)

Yang dikemas dalam bentuk kombinasi dosis tetap. Dosis dapat dilihat pada tabel Dosage schedule for FDCs of WHO recommended strengths.

Pencegahan

Aapun beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh setiap individu sehat untuk mengurangi risiko tertular TBC, di antaranya:

  • Melakukan vaksinasi BCG (hanya pada bayi baru lahir sampai dengan umur 2 bulan)
  • Berolahraga teratur
  • Mengonsumsi makanan bergizi
  • Tidak merokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol secara berlebihan
  • Memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami gejala-gejala TBC paru
  • Membuka jendela dan tirai rumah setiap pagi
  • Meminum obat TPT bagi yang berisko tinggi tertular, seperti kontak erat dengan pasien penderita TBC

Komplikasi TBC

Sebenarnya komplikasi dapat terjadi pada hampir semua organ tubuh manusia, namun ada beberpa komplikasi yang paling sering terjadi dan perlu diketahui seperti beberapa organ tubuh manusia berikut ini:

  1. Otak. Jika orang dengan TBC tidak diobati sesuai standar, maka bakteri dapat menyebar melalui aliran darah sehingga dapat menyebakan infeksi pada organ tubuh lainnya, termasuk yang paling rawan adalah Otak. Bakteri TBC dapat menyerang selaput otak dan kondisi ini dikenal dengan Meningitis tuberkulosis. Gejala umum yang timbul akibat komplikasi TBC otak adalah meningkatnya tekanan pada otak, stroke, penurunan kesadaran dan bahkan mengakibatkan kematian.
  2. Mata. Mata dapat mengalami kerusakan akibat komplikasi, baik langsung maupun tidak langsung. Ada beberapa bagian mata yang paling sering diserang, antara lain konjungtiva, kornea, dan sklera. Jika hal ini terjadi, gejala awal yang akan dialami adalah pandangan yang mengabur dan kondisi mata yang tiba-tiba menjadi terlalu sensitif terhadap cahaya.
  3. Tulang dan Sendi. Tulang dan sendi menjadi salah satu kasus komplikasi yang paling sering terjadi. Pada umumnya menyerang tulang belakang sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan serius, kerusakan saraf, hingga rusaknya bentuk tulang belakang.
  4. Ginjal. Komplikasi tuberkulosis juga sering terjadi pada organ ginjal terutama bagian luar (cortex). Bila infeksi tidak tertangani dengan baik dapat menginfeksi hingga ke bagian yang lebih dalam (medula) sehingga dapat menimbulkan komplikasi lain, seperti penumpukan kalsium, hipertensi, pembentukan jaringan nanah, hingga gagal ginjal.

Inilah beberapa contoh komplikasi yang bisa terjadi akibat TBC pada organ tubuh manusia. Jagalah kesehatan dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan jika sahabat mengalami gejala tuberkulosis, jangan tunda untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

  • 22 June 2022

  • 13 June 2022

  • 6 June 2022

  • 30 May 2022