ASTTIE: PELATIHAN PENINGKATAN KAPASITAS TIM PENELITI UNTUK DIAGNOSIS TUBERKULOSIS (TBC) PADA ODHA

2 May 2021

Berdasarkan laporan badan kesehatan dunia (WHO) dalam laporan Global TBC Report 2020, Indonesia menempati peringkat dua dunia setelah India untuk tingginya beban kasus TBC di dunia. Salah satu faktor penyebab tingginya proporsi kasus TBC di Indonesia adalah sulitnya diagnosis tuberkulosis melalui konfirmasi bakteriologis. Kondisi ini terutama ditemukan pada diagnosis TBC pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sulitnya diagnosis TBC pada anak dan ODHA, dikarenakan sulitnya mendapatkan sputum yang berkualitas, sehingga menyebabkan terjadinya ketidaktepatan diagnosis, keterlambatan dimulainya pengobatan, serta hasil diagnosis yang buruk.

Yayasan KNCV Indonesia bersama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM melalui proyek ASTTIE (Alternative to Sputum for Tuberculosis Testing in Indonesia and Ethiopia) menyelenggarakan pelatihan peningkatan kapasitas bagi petugas laboratorim untuk uji diagnosis TBC pada ODHA. Kegiatan ini diselenggarakan di Gedung Inari FKUI selama dua hari berturut-turut, yaitu 29-30 April 2021.

Penggunaan bahan uji alternatif sputum seperti urin, dipertimbangkan dapat digunakan untuk mendiagnosis TBC pada ODHA. Alternatif bahan uji selain sputum dan metode diagnosis saat ini sedang diuji untuk menambah bukti manfaat dalam mengonfirmasi penyakit TBC sehingga diharapkan dapat mengakselerasi proses mulainya pengobatan TBC pada pasien ODHA. dr. Fransisca Srioetami, konsultan laboratorium Yayasan KNCV Indonesia menjelaskan studi yang saat ini sedang dilakukan adalah untuk menguji manfaat penggunaan alat uji point of care Visitect untuk melakukan penghitungan kadar CD4 pada ODHA, dan alat uji point of care FujiLAM untuk mendeteksi TBC pada ODHA.

Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh dr. Darmawan Budi Setyanto, SpA (K), Principal investigator, sekaligus koordinator studi stool RSCM. Beliau juga menjelaskan mengenai tantangan dalam diagnosis TBC pada anak, dimana salah satunya adalah dalam melakukan uji diagnosis karena sulitnya mendapatkan sputum pada anak. Yang kemudian dilanjutkan oleh Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, SpPD,KPTI,FACP-FINASIM, PhD, Co-principal investigator, sekaligus koordinator studi LAM RSCM yang menjelaskan mengenai kondisi epidemologi TBC/HIV di Indonesia termasuk perihal uji diagnosis TBC pada ODHA.

Pada hari kedua, peserta mempraktikkan tentang bagaimana mekanisme pemeriksaan CD4 menggunakan Visitect. Adapun, peserta dalam pelatihan ini merupakan tim peneliti laboratorium yang berasal dari Rumah Sakit tempat pengambilan data untuk studi ASTTIE, yaitu RSCM, RS Kramat 128, RS Pelni, dan RS Carolus, RS Budhi Asih dan RS Pasar Rebo.

“Pelatihan ini merupakan hal yang baru bagi kami tenaga analis (ATLM). Dan pengerjaannya juga cukup mudah untuk dilakukan, harapannya selain mempermudah alat ini juga memiliki tingkat keakuratan yang tinggi,” Fajar Rina, AMAK, peserta pelatihan dari petugas laboratorium RSCM.

Acara dilanjutkan dengan assessment kompetensi individu yang dilakukan oleh tim dari OMEGA Diagnostic Ltd, pengembang Visitect yang merupakan alat untuk pemeriksaan CD4. Assesment ini bertujuan untuk melihat kapasitas tenaga laboratorium yang telah dilatih selama dua hari dalam penggunaan alat uji diagnosis. Peserta diminta satu per satu mempraktikan penggunaan alat uji diagnosis tersebut dan akan dievaluasi oleh tim dari OMEGA Diagnostic Ltd.

Proyek ASTTIE berkontribusi dalam mencapai eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030 melalui upaya meningkatkan penemuan kasus TBC pada populasi anak dan ODHA dengan metode uji diagnostik menggunakan bahan uji alternatif selain sputum, yaitu tinja dan urin. ASTTIE didanai oleh the Dutch Ministry for Foreign Affairs melalui World Health Organization (WHO) HQ kepada KNCV Tuberculosis Foundation.

 

Teks dan Foto: Melya
Editor: Angelin Yuvensia
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 21 July 2022

  • 18 July 2022

  • 20 June 2022

  • 8 June 2022