EMPATI TB: EKSPANSI UJI COBA EMPATI TAHAP KEDUA DALAM MENDUKUNG PASIEN TBC RO DI 10 PROVINSI

8 October 2020

Kegiatan uji coba penggunaan aplikasi EMPATI dilaksanakan dalam 2 tahap, dimana tahap awal telah dan sedang berlangsung di 3 kota, yaitu Jakarta Timur, Tangerang Selatan dan Kota Bandung sejak akhir Juli 2020. Pada pelaksanaan tahap awal ini, telah dilakukan evaluasi penggunaan aplikasi EMPATI pada akhir Agustus 2020. Perbaikan aplikasi telah dilakukan, diantaranya penambahan indikator evaluasi pemantauan status pengobatan dan kepatuhan berobat, penambahkan variabel integrasi SITB dan pengembangan aplikasi sesuai alur pendampingan di lapangan.

Pada tahap 2 ini, kembali diselenggarakan lokakarya uji coba EMPATI di 18 Kabupaten/Kota di 10 Provinsi, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Barat, dan Aceh. Kegiatan yang diselenggarakan dalam empat gelombang, yaitu tanggal 1, 2, 5, dan 6 Oktober 2020 yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pendamping pasien; kader, pendidik sebaya, dan manager kasus serta tenaga kesehatan di Rumah Sakit MTPTRO dan Puskesmas satelit untuk menggunakan aplikasi EMPATI sebagai bagian dari sistem pendampingan pasien TBC RO (TBC Resistan Obat) berbasis komunitas.

Acara berlangsung selama empat hari, dibuka oleh dr. Imran Pambudi, Kasubdit TB Kementerian Kesehatan RI. Dalam pembukaannya beliau mengatakan pentingnya komunitas dan masyarakat dilibatkan secara aktif dalam upaya pendampingan pasien TBC RO, serta membantu koordinasi antara pendamping dan pihak layanan kesehatan untuk meningkatkan layanan TBC bagi masyarakat.

“TBC RO masih menjadi persoalan utama dalam kasus TBC di Indonesia, sehingga pelibatan masyarakat dan para mantan pasien TBC perlu dilibatkan secara aktif dalam pendampingan berbasis komunitas, dengan adanya EMPATI tentu sangat membantu komunitas dalam membantu pendampingan bagi para pasien TBC RO,” ujar dr. Imran Pambudi dalam pembukaannya.

Dalam kegiatan ini peserta yang sebagian besar merupakan organisasi komunitas(LKNU dan Aisyiyah), Organisasi Pasien, Dinas Kesehatan terkait, dan Puskesmas Satelit diberikan paparan mengenai situasi TBC RO di Indonesia serta pedoman penemuan kasus dan pendampingan pasien berbasis komunitas, uji coba dan penggunaan aplikasi EMPATI. Kedepan aplikasi ini akan tetap terus dikembangkan baik untuk dapat digunakan bagi setiap pengguna, baik bagi pasien, pendamping, dan layanan. EMPATI saat ini masih satu arah sebatas menarik data dari SITB,

”Harapannya kedepan EMPATI dapat dilakukan dua arah dengan SITB dan bisa membantu dalam melakukan investigasi kontak untuk pasien mangkir,” ujar Lia dari Dinas Kesehatan Kabupaten Serang.

Pelibatan komunitas menjadi kunci penting untuk mendukung penurunan kasus TBC RO saat ini. Melalui EMPATI, komunitas dapat dengan mudah melakukan koordinasi dengan puskesmas satelit serta mendapatkan update langsung mengenai perkembangan proses pendampingan pasien TBC RO. Sehingga membantu dalam menjawab tantangan sulitnya koordinasi baik antara pendamping dengan pihak Dinas, penyedia layanan kesehatan, dan pasien.

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengembangkan beberapa aplikasi untuk membantu program tuberkulosis di Indonesia. Pengembangan EMPATI dilakukan sejak tahun 2018 sebagai upaya memperkuat sistem pendampingan pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) oleh komunitas yang sesuai dengan Panduan Penemuan Kasus dan Pendampingan Pasien TBC RO yang disepakati Bersama Kementerian Kesehatan dengan organisasi berbasis komunitas dan organisasi pasien TBC. Setelah pengembangan aplikasi selesai, EMPATI juga telah dilakukan uji coba pelaksanaan di lapangan secara bertahap.

 

Teks: Melya
Editor: Erman Varella
Gambar: Amadeus Rembrandt

  • 18 July 2022

  • 20 June 2022

  • 8 June 2022

  • 2 June 2022