Harga Obat Tuberkulosis (TBC) Baru Turun Drastis, Mungkinkah?

1 November 2019

Penemuan rifapentine sebagai salah satu jenis obat baru dalam paduan pencegahan Tuberkulosis (TBC) dan pengobatan infeksi laten TBC, telah memberikan sebuah harapan baru untuk upaya eliminasi TBC. Akan tetapi, harganya yang terlampau tinggi menjadi kendala utama yang menghambat penggunaan obat ini di seluruh dunia. Pada awal dipublikasikannya, rifapentine dijajakan pada harga $71 atau Rp 996.868,40 (kurs rupiah 30 Oktober 2019).

Setelah proses advokasi dan negosiasi yang pelik antara Unitaid dan the Global Fund dengan perusahaan farmasi yang memproduksi obat rifapentine (Priftin:registered:), yaitu Sanofi, akhirnya perusahaan asal Amerika Serikat ini sepakat untuk memberikan potongan harga sebesar 66%, dari $45 menjadi $15 untuk 3 bulan pengobatan. Kabar baik ini diumumkan pada konferensi pers yang digelar sehari lalu (31/10/19) di the 50th Union Conference on Lung Health yang diadakan di Hyderabad, India. Adanya gebrakan baru ini diharapkan dapat membantu pengobatan infeksi TBC laten pada negara-negara dengan angka kasus TBC dan TBC-HIV yang tinggi.

Kehadiran rifapentine (P) yang diusung sebagai paduan pencegahan Tuberkulosis (TBC) baru bersama dengan isoniazid (H), dapat mempersingkat durasi pengobatan TBC laten menjadi 1-3 bulan, dibandingkan dengan durasi pengobatan sebelumnya dengan isoniazid (H) saja yang membutuhkan waktu 6-36 bulan. Adanya paduan obat baru ini diharapkan dapat mempercepat tercapainya target global untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030.

Teks: Denisa Widyaputri
Editor: Yeremia PMR

Referensi: Official Press Conference: TB Prevention. Hyderabad, India: The 50th Union Conference on Lung Health; 2019.

  • 30 May 2022

  • 23 May 2022

  • 16 May 2022

  • 21 February 2022