Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular dengan beban kasus tinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Banyak orang yang baru pertama kali didiagnosis sering bertanya: mengapa obatnya begitu banyak? Mengapa harus diminum selama berbulan-bulan, bahkan pada kondisi tertentu bisa mendekati dua tahun?
Pertanyaan ini sangat wajar. Namun, jumlah obat dan lamanya terapi bukanlah keputusan yang dibuat tanpa dasar. Skema pengobatan TBC adalah hasil perjalanan panjang riset medis, pemahaman mendalam tentang karakter bakteri penyebabnya, serta bukti ilmiah yang menunjukkan cara paling efektif untuk mencapai kesembuhan dan mencegah resistansi obat.
Dari Terapi Tunggal ke Kombinasi Obat
Perubahan besar dalam pengobatan TBC dimulai pada tahun 1943 dengan ditemukannya streptomycin, antibiotik pertama yang efektif melawan TBC. Penemuan ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya penyakit ini dapat diobati secara farmakologis. Namun, penggunaan satu obat saja segera menunjukkan kelemahan. Dalam waktu relatif singkat, Mycobacterium tuberculosis mampu bermutasi dan menjadi resistan.
Pada awal 1950-an, isoniazid ditemukan dan mulai digunakan bersama streptomycin. Pendekatan kombinasi ini secara signifikan menurunkan risiko resistansi. Kemudian rifampicin diperkenalkan pada akhir 1960-an dan menjadi komponen kunci karena memiliki daya bunuh kuat, termasuk terhadap populasi bakteri yang tumbuh lambat.
Dari pengalaman tersebut lahirlah prinsip dasar yang masih digunakan hingga saat ini: pengobatan TBC harus menggunakan kombinasi beberapa obat dengan mekanisme kerja berbeda. Tujuannya jelas, yaitu memastikan seluruh populasi bakteri dapat dieliminasi dan mencegah munculnya bentuk kebal obat.
Pada masa awal terapi kombinasi, pengobatan dapat berlangsung 18–24 bulan dengan beban tablet yang besar. Seiring berkembangnya penelitian klinis global, ditemukan bahwa kombinasi empat obat lini pertama dalam dua fase terapi mampu mencapai angka kesembuhan tinggi dengan durasi sekitar 6 bulan untuk TBC sensitif obat.
Mengapa Harus Banyak Obat?
Ada alasan biologis yang sangat kuat. Mycobacterium tuberculosis bukan bakteri biasa. Pertumbuhannya lambat dan dapat berada dalam beberapa kondisi biologis sekaligus: aktif, lambat tumbuh, atau dormant. Artinya, tidak semua bakteri dapat dibasmi pada waktu yang sama atau dengan satu jenis obat saja.
Sebagian obat bekerja optimal pada bakteri yang aktif membelah, sementara yang lain lebih efektif terhadap populasi persisten. Tanpa kombinasi obat dengan mekanisme berbeda, sebagian bakteri dapat bertahan dan berisiko menyebabkan kekambuhan.
Selain itu, resistansi obat terjadi akibat mutasi spontan. Jika terapi hanya menggunakan satu obat, bakteri yang memiliki mutasi resistan dapat berkembang dan mendominasi. Dengan beberapa obat sekaligus, kemungkinan bakteri mampu bertahan terhadap semuanya menjadi sangat kecil. Inilah dasar ilmiah mengapa terapi kombinasi menjadi standar global.
Mengapa Durasi Pengobatan Lama?
Banyak orang merasa lebih baik setelah beberapa minggu minum obat. Batuk berkurang, demam mereda, berat badan mulai naik. Namun perbaikan gejala tidak berarti semua bakteri sudah mati. Sebagian bakteri dapat “bersembunyi” dalam jaringan paru (atau jaringan lainnya) dan memerlukan paparan obat dalam waktu cukup lama agar benar-benar tereliminasi. Jika pengobatan dihentikan terlalu cepat, bakteri yang tersisa dapat berkembang kembali dan berpotensi menjadi kebal obat.
Durasi terapi yang direkomendasikan ditetapkan berdasarkan uji klinis besar yang mengukur angka kekambuhan. Enam bulan bukan angka yang dipilih secara acak, melainkan durasi yang terbukti memberikan tingkat kesembuhan tinggi dengan risiko relaps rendah pada TBC sensitif obat.
Perbedaan Berdasarkan Jenis TBC
Pada TBC sensitif obat (TBC SO), paduan pengobatan standar global berdurasi 6 bulan, terdiri dari fase awal dengan kombinasi minimal empat obat, dilanjutkan fase lanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, WHO juga merekomendasikan opsi 4 bulan berbasis rifapentine dan moxifloxacin untuk individu dengan kriteria tertentu. Namun, opsi ini bersifat selektif dan tidak menggantikan paduan standar secara universal.
Pada TBC resistan obat (TBC RO), situasinya lebih kompleks. Bakteri sudah tidak lagi sensitif terhadap obat utama seperti rifampisin atau isoniazid. Karena itu diperlukan kombinasi obat yang berbeda, termasuk obat baru. Saat ini tersedia paduan 6 bulan, 9 bulan, hingga paduan jangka panjang (18–20 bulan), tergantung hasil uji kepekaan obat dan evaluasi klinis. Artinya, terapi TBC RO bersifat individual dan berbasis data laboratorium.
Inovasi Terus Berjalan
Pengobatan TBC bukan sistem yang statis. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, terdapat 29 kandidat obat yang sedang berada dalam uji klinis fase I-III. Jumlah ini menunjukkan bahwa pipeline inovasi terus berkembang.
Kolaborasi global, dukungan pendanaan, dan konsorsium riset internasional membuka peluang hadirnya terapi yang lebih singkat dan lebih efektif di masa depan. Ini memberikan harapan bahwa beban terapi dapat semakin berkurang.
Pengobatan TBC yang terlihat banyak dan lama bukanlah praktik lama tanpa alasan. Skema tersebut merupakan hasil dari pemahaman ilmiah tentang karakter biologis Mycobacterium tuberculosis dan bukti klinis yang menunjukkan bahwa kombinasi obat serta durasi terapi yang memadai adalah strategi paling efektif untuk mencapai kesembuhan dan mencegah resistansi.
Menjalani terapi memang tidak mudah. Namun setiap tablet dan setiap bulan pengobatan memiliki tujuan yang jelas: memastikan infeksi benar-benar tuntas dan mencegah komplikasi di masa depan. Di saat yang sama, inovasi tidak berhenti. Obat-obat baru dan paduan terapi modern telah mulai memperpendek durasi pengobatan dan jumlah obat pada kelompok tertentu, dan riset global terus berjalan untuk menghadirkan pilihan yang lebih baik di masa depan. Hingga terapi yang lebih singkat dapat diakses secara luas, mengikuti paduan yang direkomendasikan tetap menjadi langkah paling aman dan efektif untuk memastikan kesembuhan yang optimal.
References:
- Dorman, S. E., Nahid, P., Kurbatova, E. V., et al. (2021). Four-month rifapentine regimens with or without moxifloxacin for tuberculosis. The New England Journal of Medicine, 384(18), 1705–1718. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2033400
- World Health Organization. (2022). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: Treatment – drug-resistant tuberculosis treatment. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240063129
- World Health Organization. (2023). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: Treatment – drug-susceptible tuberculosis treatment. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240050761
- World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025. World Health Organization. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025
- World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025: TB research and innovation. World Health Organization. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025/tb-research-and-innovation
Baca juga: Apa itu Tuberkulosis / TBC?