Skrining TBC untuk Peningkatan Produktivitas Pekerja

28 January 2020

“Saya sangat concern dengan program TBC di tempat kerja. Setiap lingkungan kerja memiliki karakteristik yang berbeda-beda, namun faktor kesehatan tetap perlu menjadi perhatian khusus. Medical Check Up (MCU) rutin memang baik dilakukan, tetapi tidak dapat menjadi patokan untuk diagnosis TBC, sehingga tetap membutuhkan program khusus guna penanggulangan TBC di tempat kerja. TBC pada pekerja dapat berdampak pada produktivitas pekerja dan perusahaan sehingga penting untuk menciptakan tempat kerja yang aman dari TBC,” ujar dr. Iwan RA Siahaan, SpOK dalam pertemuan sosialisasi program WOW-TB di kawasan industri JIEP.

Kasus TBC yang tidak ditangani dengan baik di kalangan pekerja dapat memberikan dampak pada pekerja maupun perusahaan. Produktivitas pekerja dapat berkurang dan pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas perusahaan. Ditambah dengan stigma yang masih tinggi terhadap penderita TBC, hal ini berisiko pada pemutusan hubungan kerja terhadap penderita TBC sehingga dampak lainnya dapat terjadi pada sosio-ekonomi pekerja.

Dalam pertemuan sosialisasi program skrining TBC pada pekerja di kawasan industri JIEP, Senin, 27 Januari 2020, dr. Fransisca Srioetami, konsultan laboratorium Yayasan KNCV Indonesia menjelaskan tentang pentingnya program penanggulangan TBC di tempat kerja. Indonesia sebagai negara dengan beban TBC nomor tiga tertinggi di dunia memiliki risiko penularan yang tinggi, termasuk di lingkungan kerja.

“TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan bisa sembuh selama pengobatan dijalani dengan rutin, tepat, dan sampai tuntas. Kasus TBC di tempat kerja yang ditemukan dan ditangani dengan baik dapat menjadi peluang bagi perusahaan untuk peningkatan produktivitas dan terciptanya lingkungan kerja bebas TBC. Pekerja yang menderita TBC pun tidak kehilangan kesempatan untuk tetap bekerja, setelah diistirahatkan dalam jangka waktu tertentu pada awal pengobatan,” ujar dr. Fransisca.

WOW-TB (Women Empowerment in Workplace to end TB) merupakan program penanggulangan TBC di tempat kerja melalui pemberdayaan perempuan untuk menciptakan lingkungan kerja bebas TBC, melalui penemuan kasus TBC dan pembentukan penggiat TBC (TB Warrior). Penemuan kasus TBC dilakukan dengan skrining dan pemeriksaan diagnosis TBC melalui klinik mobil, yang dilanjutkan dengan pengobatan TBC, serta pencatatan dan pelaporan kasus dalam sistem nasional. Sedangkan penggiat TBC yang berasal dari pekerja maupun manajemen perusahaan akan menjadi model penanggulangan TBC di tempat kerja melalui pemantauan batuk, pengawasan menelan obat, serta pembentukan jejaring dengan Puskesmas setempat.

Pertemuan ini mendapatkan antusiasme yang cukup baik dari para peserta yang merupakan HRD/HSE dari 14 perusahaan di kawasan industri JIEP, manajemen PT JIEP, Disnakertrans DKI Jakarta, Sudinkes Jakarta Timur, APINDO DKI Jakarta dan Jakarta Timur, serta KOPI TB (Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis).

“Pekerja yang menderita TBC perlu mendapat perhatian khusus dan tidak perlu dikucilkan. Berdasarkan pengalaman kami, perusahaan memberikan waktu istirahat selama satu bulan pada awal pengobatan, dan melakukan pemantauan kondisi kesehatan pekerja melalui dokter yang menangani, sampai yang bersangkutan dinyatakan sembuh. Yang bersangkutan tetap bekerja dengan penyesuaian penempatan bagian kerja,” ujar salah satu peserta.

Yayasan KNCV Indonesia sebagai pelaksana program WOW-TB, bekerja sama dengan manajemen PT JIEP bersama-sama berupaya untuk menciptakan lingkungan kerja bebas TBC. Melalui pertemuan ini diharapkan semakin banyak perusahaan yang menyadari pentingnya penanggulangan TBC di tempat kerja dan mau terlibat aktif di dalamnya.

 

Teks dan foto: Melya Findi

Editor: dr. Gloria

 

  • 25 May 2022

  • 21 May 2022

  • 17 May 2022

  • 25 April 2022