Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan estimasi lebih dari 1 juta kasus setiap tahun, TBC bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga persoalan sosial yang masih terjadi di sekitar kita, baik di rumah, tempat kerja, hingga komunitas.
Di tengah berbagai kemajuan, diagnosis yang lebih cepat dan pengobatan yang lebih efektif, muncul satu pertanyaan penting: jika TBC sebenarnya bisa dicegah dan disembuhkan, kenapa sampai saat ini belum selesai? Siapa yang bertanggung jawab memastikan eliminasi TBC tercapai?
Apa sih yang Sebenarnya Terjadi?
Secara global, upaya penanggulangan TBC menunjukkan kemajuan, termasuk penurunan angka kematian dan pemulihan layanan pasca pandemi COVID-19. Namun, laju penurunan kasus masih belum cukup cepat untuk mencapai target eliminasi pada 2030.
Di Indonesia, capaian program penanggulangan TBC juga terus meningkat, tetapi tantangan yang dihadapi tetap besar:
- Penularan masih terjadi di masyarakat
- Banyak kasus TBC belum terdeteksi dan terlaporkan
- TBC resistan obat membutuhkan penanganan lebih kompleks
- Kesenjangan akses dan pelaporan layanan masih ada
Artinya, masalahnya bukan karena tidak ada upaya, tetapi karena upaya tersebut belum menjangkau semua yang
membutuhkan.
Jadi, Tanggung Jawab Siapa?
Jawabannya tidak sederhana, karena TBC tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
Justru inilah inti masalahnya: ketika tanggung jawab tersebar, sering kali tidak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab sepenuhnya.
Padahal, eliminasi TBC hanya mungkin terjadi jika setiap pihak menjalankan perannya secara aktif dan saling
terhubung.
Mengakhiri TBC bukan hanya tentang strategi atau inovasi, tetapi tentang bagaimana setiap pihak mengambil perannya secara nyata.
Tanpa keterlibatan yang saling melengkapi, upaya yang ada akan berjalan sendiri-sendiri dan sulit mencapai dampak yang berkelanjutan.
Saatnya ambil peran!
Pemerintah
Pemerintah berperan memastikan sistem penanggulangan TBC berjalan kuat dan inklusif melalui pendekatan lintas sektor, tidak terbatas pada program kesehatan saja. Diperlukan koordinasi antar kementerian dan lembaga untuk memperkuat pendanaan, kebijakan pelaporan, serta integrasi dengan berbagai sektor pembangunan yang berkontribusi terhadap risiko dan penanganan TBC, seperti gizi, perlindungan sosial, perumahan, dan sektor lainnya.
Tanpa pendekatan lintas sektor yang terkoordinasi, upaya penanggulangan TBC akan sulit menjangkau seluruh populasi yang membutuhkan.
Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan adalah ujung tombak dalam menemukan dan menatalaksana TBC. Diagnosis yang cepat, pengobatan sesuai standar, pelacakan kontak, serta edukasi yang empatik menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan terapi dan pencegahan penularan.
Selain itu, penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi hal yang krusial, termasuk pembaruan pengetahuan secara berkala, kepatuhan terhadap pedoman dan juknis terbaru, serta kemampuan memberikan layanan yang komprehensif dan berpusat pada individu.
Setiap interaksi dengan layanan kesehatan merupakan peluang penting untuk memutus rantai penularan dan
memastikan keberlanjutan pengobatan.
Masyarakat
TBC tidak akan selesai tanpa peran aktif masyarakat. Stigma masih menjadi hambatan besar, membuat banyak orang menunda pemeriksaan karena takut atau kurang informasi.
Peran masyarakat sangat penting, mulai dari tokoh masyarakat dalam mengurangi stigma dan membangun pemahaman yang benar, hingga keluarga dan kader yang mendampingi proses pengobatan agar tetap berjalan tuntas. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam penemuan kasus secara aktif juga menjadi kunci untuk menjangkau mereka yang belum terdeteksi.
Dengan dukungan, keterbukaan, dan kesadaran bersama, TBC tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang memalukan atau tabu, tetapi sebagai masalah yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama.
Tanggung Jawab Bersama Menjadi Aksi Bersama
Tema global “Yes! We Can End TB” menegaskan bahwa eliminasi TBC bukan hal yang mustahil. Di tingkat global kita sudah memiliki pengetahuan, alat, dan strategi untuk mencapainya. Namun, untuk mewujudkannya di tingkat negara, komitmen global tersebut perlu diterjemahkan menjadi aksi yang konkret dan terkoordinasi. Di Indonesia, hal ini tercermin dalam tema nasional “SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB”, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan peran semua pihak. TBC belum selesai bukan karena kita tidak mampu. TBC belum selesa karena kita belum bergerak secara optimal.
Jadi, tanggung jawab siapa?
Jawabannya: semua pihak dan tidak ada yang bisa menunda perannya atau menunggu pihak lain
bertindak lebih dulu.
Setiap kebijakan yang diperkuat, setiap kasus yang ditemukan, setiap stigma yang dipatahkan, adalah langkah nyata menuju eliminasi TBC. Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 bukan sekedar pengingat, tetapi ajakan untuk bertindak.
Karena TBC belum selesai.
Dan jawabannya ada pada kita. Ambil peranmu, mulai dari sekarang.