Perjuangan Menuju Sembuh

14 February 2023

Sudah 20 tahun lebih Pak T berjuang menghadapi Tuberkulosis (TBC).

Dokter mendiagnosis Pak T, 41 tahun, pertama kali saat ia duduk di kelas 3 SMA di tahun 1999. “Saat itu saya berobat ke tempat praktik dokter swasta dan dikatakan di paru-paru saya ada kuman. Saya diberi 4 macam obat, namun obat-obatan tersebut hanya saya minum selama 1 minggu karena waktu itu saya tidak punya uang untuk berobat kembali.” Kala itu, Pak T belum mengetahui bahwa TBC dapat diobati gratis di Puskesmas. Berupaya untuk sembuh, Pak T beberapa kali membeli kembali obat TBC eceran di toko obat, walau tidak bisa membeli semua jenis obat yang seharusnya dikonsumsi. Namun tidak lama, pengobatan harus terhenti lagi karena kendala biaya.

Bekerja sebagai freelancer, selama beberapa tahun Pak T hidup dengan kondisi kesehatannya yang tak kunjung membaik.  Tubuhnya yang tadinya bugar semakin lama semakin melemah dengan gejala batuk dan sesak napas yang semakin menjadi. Di tahun 2016, Pak T mengundurkan diri dari pekerjaannya di kantor dan memilih untuk bekerja secara freelance agar bisa mendapatkan lebih banyak waktu beristirahat di rumah.

“Kehidupan saya berubah drastis. Saat sekolah dulu saya dikenal sebagai anak yang sehat, banyak ikut lomba lari dan basket. Di kantor saya juga aktif dan cekatan. Namun dengan kondisi saya yang semakin melemah, jangankan ke luar rumah – diam dan berbaring saja membuat saya sulit untuk bernapas.”

Puncaknya, di pertengahan tahun 2022 saat Pak T mulai batuk darah hebat. Khawatir dengan kondisi Pak T, istri dan anaknya membawa Pak T ke rumah sakit. Serangkaian pemeriksaan dilakukan, dan Pak T didiagnosis dengan TBC resistan obat (TBC RO). Dokter mengatakan Pak T harus menjalani pengobatan selama 18 bulan ke depan, dan memberikan paket obat sebanyak 17 butir yang harus diminum setiap harinya. Selain harus berjuang menelan obat, Pak T juga harus menghadapi efek samping obat yang membuatnya merasa mual hebat.

“Setiap melihat bungkus obat saya merasa akan muntah. Namun istri selalu menyemangati saya untuk minum obat. Istri saya selalu bilang ‘kalau kamu sayang keluarga, kamu harus berjuang untuk sembuh.’ Jadi saya paksakan minum obat itu, namun tetap sulit untuk saya mengatasi rasa mual dan muntah setiap kali minum obat.”

Paduan BPaL

Tidak sampai dua bulan, Pak T mendapat kabar dari dokter bahwa pengobatannya akan diganti ke paduan obat baru bernama paduan BpaL. “Hal ini merupakan kabar baik bagi saya. Dokter mengatakan saya hanya perlu minum obat selama 6 bulan, dan sehari hanya perlu menelan 3-5 butir obat. Setelah melewati hari-hari dengan obat yang sebelumnya, tentu saya memilih obat yang baru ini.”

Dalam 3 bulan pertama menjalani pengobatan BpaL, Pak T merasakan banyak sekali peningkatan pada kondisinya. Batuk dan sesaknya hilang, dan tubuhnya terasa lebih bertenaga. “Saya benar-benar merasa seperti sudah sehat. Saya bahkan bisa kembali bermain basket di lapangan. Istri saya sampai khawatir dan mengingatkan saya agar jangan sampai kelelahan,” ucap Pak T sambil tertawa.

Namun dalam 3 bulan pertama tersebut, Pak T mengakui mulai merasakan efek samping berupa rasa kebas serta sensasi panas dan tertusuk di kedua kakinya. Meski demikian, Pak T merasa hal tersebut tidak begitu mengganggu. “Saya berkonsultasi dengan dokter, dan dokter menyampaikan bahwa ini merupakan efek samping yang umum ditemui pada pengobatan BPaL, dan kondisi ini akan membaik setelah saya menyelesaikan pengobatan. Saya diberikan beberapa obat dan vitamin untuk memperbaiki persarafan kaki saya. Keluhan saya berangsur membaik walaupun masih terus terasa sepanjang pengobatan. Namun saya tetap dapat beraktivitas seperti biasa.”

Awal Januari ini Pak T telah tuntas menjalani 6 bulan pengobatan BpaL dan dinyatakan sembuh oleh dokter. “Rasanya sangat luar biasa. Berat badan saya naik 8 kg dan saya sudah bisa berkegiatan seperti layaknya orang sehat – saya bisa olahraga rutin, saya bisa banyak menerima pekerjaan freelance di dalam dan luar rumah, dan bahkan baru-baru ini saya dan keluarga bepergian ke luar kota. Efek samping pada kedua kaki yang sebelumnya saya rasakan juga berangsur-angsur mulai mereda.”

Selain dukungan yang tak kunjung padam dari istri dan anaknya, Pak T menyatakan bahwa rekan-rekan dari PETA (organisasi penyintas TBC RO di DKI Jakarta) juga memberikannya motivasi yang besar untuk sembuh. “Mendapat dorongan dari teman-teman yang pernah mengalami hal yang sedang saya alami tentunya membuat saya merasa dimengerti. Teman-teman PETA banyak bercerita tentang durasi pengobatan mereka dulu yang panjang, dan bahkan sampai harus disuntik. Mereka bilang saya sangat beruntung bisa mendapatkan pengobatan yang sangat singkat dengan jumlah obat yang sangat sedikit. Dibandingkan dengan pengobatan yang sudah ada,” tutur Pak T.

Pak T memiliki pesan dan harapan untuk pasien-pasien yang saat ini sedang menjalani pengobatan TBC, khususnya TBC RO seperti dirinya: “Meskipun pengobatan TBC RO terasa panjang dan berat, namun kita harus berjuang untuk sembuh – tidak hanya untuk diri kita namun juga untuk keluarga. Saya berharap ke depannya akan semakin banyak pasien TBC RO yang bisa mendapatkan pengobatan dengan durasi pengobatan yang pendek dan efektif.”

Tentang paduan BPaL

BPaL merupakan paduan pengobatan TBC RO terbaru yang telah direkomendasikan oleh WHO, yang terdiri dari obat Bedaquilin, Pretomanid, dan Linezolid dengan durasi pengobatan 6-9 bulan. Penelitian operasional BPaL di Indonesia telah berjalan sejak Juli 2022 dan merupakan kolaborasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan Yayasan KNCV Indonesia. Dan didanai oleh KOICA dan TB Alliance. Paduan pengobatan BPaL yang singkat, efektif, dan aman, diharapkan dapat memberikan kesembuhan yang cepat bagi pasien TBC RO di Indonesia. Serta menjadi salah satu langkah menuju Indonesia Bebas TBC.

  • 11 October 2023

    [Scroll down for English version] Ibu D, seorang ibu rumah tangga, menghadapi masalah Kesehatan yang [...]

  • 4 September 2023

    Apa itu pemeriksaan Viral Load (VL) HIV? Pemeriksaan Viral load (VL) HIV adalah pemeriksaan [...]

  • 26 August 2023

    [Scroll down for English version] Sebuah catatan dari komunitas terdampak TBC dan masyarakat sipil [...]

  • 12 April 2023

    Jakarta - Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 2023, Yayasan KNCV Indonesia (YKI) bersama [...]