AMPUH HIV: APA IMPLIKASI DUKUNGAN BAHAN HABIS PAKAI (BHP) TERHADAP PENGIRIMAN SPESIMEN VIRAL LOAD HIV DI KOTA SURABAYA?

3 September 2020

Dalam rangka mencapai target Three Zero HIV tahun 2030 yang meliputi zero new HIV infection, zero AIDS related death, dan zero discrimination, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan pendekatan fast track 90-90-90, yaitu 90% orang yang memiliki perilaku berisiko mengetahui status HIV-nya, 90% orang dengan HIV positif mendapat pengobatan ARV dan 90% orang yang minum ARV mengalami supresi virus. Namun, perlu diketahui bahwa di Indonesia capaian indikator 90% yang ketiga masih jauh dari target. Oleh sebab itu, Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) melaksanakan akselerasi pemeriksaan viral loadHIV melalui proyek AMPUH dan salah satu dukungan yang diberikan oleh proyek AMPUH adalah dengan penyediaan Bahan Habis Pakai (BHP).

Berdasarkan data yang masuk melalui Sistem Informasi untuk Transport Spesimen HIV (SITRUST HIV), jumlah pengiriman spesimen di Kota Surabaya cenderung fluktuatif selama 7 minggu, yang terhitung sejak 13 Juli 2020. Perlu diketahui bahwa jumlah spesimen yang dikirim di minggu ke-7 merupakan jumlah spesimen terbanyak selama pelaksanaan akselerasi pemeriksaan viral load HIV. Lebih lanjut, terjadi kenaikan yang cukup signifikan pada minggu ke-7. Pada minggu ke-6 jumlah spesimen yang dikirim adalah 47, sedangkan di minggu ke-7 terdapat 173 spesimen yang dikirim. Salah satu faktor kenaikan tersebut adalah karena BHP telah diterima fasyankes layanan Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP), yang diperkirakan telah sampai di fasyankes sekitar minggu ke-6 sehingga di minggu ke-7 fasyankes dapat menggunakan BHP tersebut.

BHP diperlukan untuk proses pengambilan, pengelolaan dan pengiriman spesimen. BHP yang digunakan dalam pengambilan dan pengelolaan sampel meliputi tabung EDTA, jarum vacutainer, holder, cryotube dan tip pipet. Sementara dalam hal pengiriman spesimen, diperlukan parafilm untuk menutup dan merekatkan tabung tersebut, kemudian dilakukan pengemasan sesuai standar. Fasyankes pengirim juga memerlukan ice gel dan ice pack agar kondisi spesimen tetap baik. Proyek AMPUH juga memberi dukungan berupa coolbox yang digunakan untuk pengiriman agar sampel tetap aman, standar serta tidak membahayakan.

Dengan dukungan BHP, diharapkan Orang dengan HIV AIDS (ODHA) yang berhak yaitu ODHA yang sudah pengobatan ARV untuk dapat melakukan akses pemeriksaan viral load HIV tersebut. Sehingga, dapat diketahui efikasi pengobatan dan dapat meningkatkan status kesehatan ODHA.

Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang diintervensi proyek AMPUH. Terdapat 14 fasyankes yang mendapat dukungan BHP. Empat belas fasyankes tersebut adalah RSUD Dr. Soetomo, RS Haji, RSUD Dr. M. Soewandhie, RS Paru Surabaya, RS Universitas Airlangga, RSUD Bhakti Dharma Husada, RSAL Dr. Ramelan, RS Jiwa Menur, RS Bhayangkara, Puskesmas Kedungdoro, Puskesmas Putat Jaya, Puskesmas Perak Timur, Puskesmas Kedurus, dan Puskesmas Dupak.

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) bekerja sama dengan Yayasan Kasih Suwitno (YKS) membantu Sub Direktorat HIV AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan ini. Bulan Viral Load HIV merupakan rangkaian kegiatan proyek AMPUH (Accelerating viral load testing aMong PLHIV through SITRUST and High-quality laboratories) yang akan diselenggarakan secara bertahap di kabupaten/kota terpilih di 34 provinsi di Indonesia selama tahun 2020. Proyek AMPUH dilaksanakan melalui bantuan pendanaan dari The Global Fund.

 

Teks dan foto: Alfi Lailiyah
Editor: Melya, dr. Suhartini

  • 21 November 2020

  • 13 November 2020

  • 13 November 2020

  • 13 November 2020