EMPATI TB : Lokakarya dan Sosialisasi Aplikasi EMPATI untuk Uji Coba di 3 Kota Berbasis RS MTPTRO

16 July 2020

Berdasarkan Global Tuberculosis Report tahun 2019, Indonesia menjadi negara dengan beban Tuberkulosis (TB) ketiga terbesar di dunia dengan total kasus TBC mencapai 845,000 kasus. Dari jumlah kasus tersebut, 9.118 kasus merupakan kasus pasien TBC Resistan Obat (TBC RO) dengan tingkat mulai pengobatan (enrolment rate) sebesar 47% (4.253 pasien). Angka ini di bawah target pengobatan, yaitu sebesar 90%. Dari 4.253 pasien yang mulai pengobatan, hanya 26% diantaranya putus berobat (lost to Follow up).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi rendahnya pengobatan dan tingginya angka putus berobat, salah satunya dengan pelibatan masyarakat dan kelompok mantan pasien TBC RO guna meningkatkan akses ke layanan diagnosis TBC dan kepatuhan pasien berobat melalui pendampingan pengobatan pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO).

Yayasan KNCV Indonesia (YKI) dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengembangkan produk digital kesehatan, yaitu EMPATI. Aplikasi ini dikembangkan sebagai upaya memperkuat sistem pendampingan pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) oleh komunitas yang sesuai dengan Panduan Penemuan Kasus dan Pendampingan Pasien Tuberkulosis Resistan Obat yang disepakati bersama Kementerian Kesehatan dengan organisasi berbasis komunitas dan organisasi pasien TBC. Selanjutnya aplikasi EMPATI akan diujicobakan secara bertahap, tahap awal dan tahap ekspansi.

Dalam rangka ujicoba pengunaan aplikasi EMPATI tahap awal telah diselenggarakan  lokakarya sosialiasi pengunaan EMPATI di 3 Kota Berbasis RS MTPTRO, yaitu Bandung, Jakarta Timur, dan Tangerang Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan dengan tujuan membangun komitmen dari stakeholder dalam implementasi aplikasi EMPATI.

Acara ini dibuka oleh Imran Pambudi, Kasubdit TB Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dalam pembukaannya beliau mengatakan bahwa salah satu permasalahan terbesar untuk tuberkulosis ini adalah kasus TBC RO yang tidak mau berobat. Dari data yang dihimpun tahun lalu baru sekitar 5000 kasus TBC RO yang melakukan pengobatan hanya sekitar 2500 yang kemudian menyelesaikan pengobatan.

“Kita bisa segera memberikan respon terkait dengan kendala-kendala pada pasien TBC RO apabila diketahui sejak awal. Dan bahkan selain efek samping, putusnya pengobatan juga dikarenakan kualitas layanan, dan minimnya peran keluarga. Melihat kondisi ini, maka perlu ada pemaksimalan peran digital komunikasi dalam membantu proses komunikasi baik antara pasien dengan petugas, dengan keluarga, PMO untuk tetap memberikan dukungan bagi pasien dan keluarga agar dapat menyelesaikan pengobatan dengan baik,” ujar Imran Pambudi.

 

Beliau menyimpulkan bahwa persoalan TBC RO ini adalah dengan mencari kasus lebih banyak, memulai pengobatan lebih cepat, dan mampu menyelesaikan pengobatan. Dalam rencana akselerasi penanggulangan TBC RO, pemerintah mentargetkan adanya peningkatan keberhasilan pengobatan dari 19% di tahun 2018 menjadi 36 persen di tahun 2020. Upaya ini salah satunya memegang tiga prinsip, yaitu layanan berpusat pada pasien, kualitas program, dan layanan TBC RO, serta pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan notifikasi TBC RO, pengawasan minum obat, mentoring jarak jauh, koordinasi fasyankes, komunitas, dan pemantauan pasien.

Dalam konteks EMPATI, maka keterlibatan komunitas menjadi sangat penting, baik dalam proses minum obat, hingga penyelesaian pengobatan. Komunitas dapat memberikan edukasi dan motivasi kepada pasien, melakukan monitoring kepatuhan pengobatan, pelacakan kasus pasien mangkir, edukasi bagi keluarga, dan kontak investigasi.

Dr. Endang Lukitosari dari Sub Direktorat TB memaparkan tentang mekanisme pendampingan pasien TBC RO berbasis komunitas. Beliau menekankan konsep pendampingan adalah proses interaksi dua arah dalam memberikan edukasi dan motivasi yang bertujuan agar pasien patuh berobat hingga sembuh. Dalam kaitannya dengan EMPATI, setiap pendamping memiliki perannya masing-masing, baik sebagai manajer kasus, pedidik sebaya, maupun kader kesehatan.

”Komponen pendampingan terdiri dari: manager kasus, pendidik sebaya, dan kader kesehatan. Melanjutkan paparan pak Imran sebelumnya, maka peran komunitas menjadi sangat penting sebagai pendamping dimana termasuk efektifitas proses pendampingan pasien TBC RO,” ujar Ibu dr.Luki dalam paparannya.

Peran EMPATI ini tidak akan menggantikan proses pendampingan, namun mendukung proses pendampingan terutama mempermudah dalam proses monitoring pendampingan bagi pasien. Retno KD, Subdit TB, melanjutkan paparannya mengenai bagaimana teknis uji coba pelaksanaan tahan awal di tiga kabupaten/kota dan di lanjutkan teknis pelaksanaan ekspansi ke sejumlah wilayah lain di 11 provinsi.

Acara dilanjutkan dengan paparan dari Taufik Priyono dari Yayasan KNCV Indonesia mengenai teknis penggunaan aplikasi EMPATI. Beliau memaparkan alur teknis penggunaan EMPATI, serta bagaimana masing-masing peran menggunakannya. Masih berkaitan dengan EMPATI, Dwi Sartika melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana metode monitoring dan evaluasi uji coba aplikasi EMPATI. Data yang termuat dalam EMPATI nantinya akan disamakan dengan data pada SITB melalui proses integrasi data EMPATI dengan SITB, sehingga pasien TBC RO yang sudah tercatat di SITB juga akan masuk ke EMPATI.

Acara ini melibatkan 45 peserta yang berasal dari Subdit TB, PR GF TB Aisyiyah, SR khusus GF TB LKNU, POP TB Indonesia, Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA), Yayasan Terjang Bandung, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, RSU Tangerang Selatan, dan RSHS. Implementasi proyek EMPATI merupakan dukungan bagi penanggulangan TBC RO di Indonesia yang didukung oleh Global Fund. Aplikasi EMPATI akan menjadi media penyampai pesan pendampingan yang terkoneksi langsung antar pendamping baik yang berada di Fasilitas Layanan Kesehatan (fasyankes) Rujukan Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) dan satelitnya.

 

Teks: Melya Findi
Editor: Erman Varella

  • 18 July 2022

  • 20 June 2022

  • 8 June 2022

  • 2 June 2022