IMPAACT4TB: PERTEMUAN MONITORING DAN EVALUASI IMPLEMENTASI AWAL TPT 3HP DI DKI JAKARTA

3 May 2021

Dalam upaya mencapai target Eliminasi TBC pada tahun 2035, hasil pemodelan dari badan kesehatan dunia (WHO) menunjukkan target tersebut hanya dapat dicapai dengan mengkombinasikan upaya pengobatan TBC aktif dan upaya pencegahan TBC pada kelompok populasi dengan infeksi laten TBC (ILTB). WHO memperkirakan hampir dua miliar orang dari seluruh populasi dunia terinfeksi TBC laten dan diperkirakan sekitar 10% atau sebanyak 200 juta orang di antaranya akan berkembang menjadi sakit TBC. Pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) pada populasi dengan ILTB akan mengurangi risiko terjadinya TBC aktif sehingga turut pula mengurangi insiden TBC.

Sub-Direktorat TBC telah memulai implementasi TPT di Indonesia sejak 2016 dengan kelompok sasaran utama anak <5 tahun kontak serumah dari pasien terkonfirmasi bakteriologis dan ODHA dengan pilihan rejimen isoniazid yang dikonsumsi setiap hari selama 6 bulan (PP INH). Laporan Global TB Report 2019 menunjukkan capaian TPT di Indonesia masih sangat rendah, sebesar 10% masing-masing pada kontak anak di bawah 5 tahun dan ODHA baru memulai ARV. Sebagai salah satu upaya peningkatan cakupan TPT tersebut, Sub-Direktorat TBC telah menyusun petunjuk teknis penanganan ILTB 2020 merujuk pada pedoman programatik ILTB oleh WHO.

Disamping PP INH, program nasional mulai menggunakan pilihan paduan TPT lainnya yang telah direkomendasikan WHO termasuk 3HP, kombinasi rifapentine dan isoniazid dosis mingguan selama tiga bulan. Selain itu, dilakukan pula perluasan kelompok sasaran pemberian TPT mencakup ODHA, seluruh kontak serumah dan populasi berisiko lainnya. Sejalan dengan ini, Kementerian Kesehatan telah melakukan pengadaan 3HP dan melakukan implementasi awal pemberian 3HP di Provinsi DKI Jakarta dengan sasaran utama seluruh kontak serumah dan ODHA yang dilakukan di 41 layanan terpilih di 5 kotamadya DKI Jakarta.

Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan implementasi awal 3HP, mengidentifikasi permasalahan dan mencari upaya pemecahanannya, Yayasan KNCV Indonesia menyelenggarakan pertemuan monitoring dan evaluasi implementasi 3HP. Kegiatan ini dihadiri sebanyak 100 peserta yang berasal dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Suku Dinas Kesehatan (Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur) dan 41 layanan terpilih.

Kegiatan ini dibuka oleh dr. Vita, dari Dinkes DKI Jakarta. Dan dilanjutkan oleh Wasor TB, dr. Victor mengenai paparan implementasi TPT di DKI Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan secara virtual ini juga bertujuan untuk menentukan strategi dalam mengatasi temuan dan kendala yang dialami dalam implementasi TPT. Serta juga memaparkan praktik baik dari layanan yang sudah mencapai target kepada layanan lain yang belum mencapai target dalam implementasi TPT.

dr. Rerin Alfredo, Technical Officer YKI dalam paparannya menyatakan bahwa kedepan perlu koordinasi antara petugas kesehatan dengan farmasi dalam menghitung jumlah kebutuhan obat TPT pada pasien menyebabkan logistik obat rifapentine dan priftin yang masih terbatas sehingga dapat diprediksikan untuk membantu agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan dengan jumlah obat yang sesuai.

“Hambatan yang kami rasakan dalam pelaksanaan TPT adalah dari kurangnya keteraturan jadwal minum obat pasien, solusinya adalah kami selalu mengingatkan pasien untuk selalu minum obat dan proaktif untuk selalu melakukan follow up ke pasien” ujar dr. Musdah dari PKC Menteng.

Kegiatan ini dilakukan melalui dukungan kegiatan proyek IMPAACT4TB. IMPAACT4TB berupaya untuk mendukung negara dengan beban TBC tinggi untuk mengimplementasikan dan memperluas implementasi 3HP dalam rangka mencegah kematian TBC di antara kelompok berisiko tinggi, termasuk Indonesia.

Teks dan foto: Amadeus Rembrant
Editor: Melya, Febrina Damanik

  • 18 July 2022

  • 20 June 2022

  • 8 June 2022

  • 2 June 2022