TAHU TB: Mitos Fakta Terapi Pencegahan Tuberkulosis

21 February 2022

Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) merupakan salah satu upaya penting untuk mencegah berkembangnya bakteri tuberkulosis menjadi aktif. Penularan TBC terjadi saat bakteri penyebab TBC ditularkan melalui udara pada orang terdekat dengan pasien terinfeksi TBC. Meski demikian, orang dengan kondisi daya tahan tubuh yang baik, bakteri yang masuk ke dalam tubuh dapat dicegah oleh sistem kekebalan imun sehingga seseorang tersebut tidak menjadi sakit TBC (Infeksi Laten Tuberkulosis).

Orang yang terinfeksi dengan kondisi bakteri laten di tubuh, maka ia tidak dapat menularkan penyakit TBC kepada orang lain. Meski demikian, hal ini perlu diwaspadai saat kondisi kekebalan di dalam tubuh sedang menurun maka bakteri TBC dapat berkembang. Oleh karena itu, orang yang kontak dengan pasien TBC aktif, orang dengan HIV (ODHIV) ataupun kondisi penyerta yang menyebabkan imunitas turun harus minum obat untuk pencegahan agar menurunkan risiko terkena TBC.

Meski demikian capaian pemberian TPT masih jauh dari target. Salah satu penyebabnya dikarenakan oleh pemahaman masyarakat yang kurang tentang pentingnya pemberian TPT. Berikut rangkuman 5 mitos fakta mengenai terapi pencegahan tuberkulosis:

1.     Anak saya tidak sakit, jadi tidak perlu minum obat

Fakta: Biasanya kasus TBC pada anak dipicu oleh kontak dengan orang serumah yang terinfeksi. Anak mudah terpapar dengan adanya interaksi dengan anggota keluarga yang terinfeksi secara terus menerus. Oleh sebab itu terapi pencegahan TBC yang diberikan selama kurun waktu 3 bulan (regimen 3HP) atau 6 bulan (regimen 6H) penting diberikan agar anak tidak menjadi TBC aktif dan mampu melindungi anak dari tuberkulosis.

2.     Saya sudah minum obat ARV, takutnya terjadi komplikasi saat minum obat

Fakta: TPT bagi ODHIV telah terbukti secara signifikan mengurangi risiko kematian karena TBC. Hal ini dikarenakan ODHIV memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk dan rentan terhadap paparan penyakit. TPT dengan regimen 3HP dapat diberikan kepada pasien HIV yang menjalani pengobatan ARV yang umum digunakan, kecuali Nevirapine dan golongan protease inhibitor. ARV seperti efavirenz atau raltegravir termasuk didalamnya dolutegravir aman digunakan tanpa perlu dilakukan perubahan dosis

3.     Minum TPT bisa menyebabkan resistansi kuman TBC

Fakta: Belum ada bukti ilmiah yang berkaitan antara resistansi OAT dengan penggunaan i TPT yang diberikan kepada kelompok masyarakat yang berisiko. Anggapan bahwa TPT meningkatkan risiko resistansi adalah mitos yang menghambat program pencegahan TBC dan individu untuk mengakses TPT. Sebagian besar kasus resistansi OAT terjadi akibat pengobatan TBC aktif yang kurang optimal, oleh karena itu, untuk mencegah berkembangnya infeksi TBC laten menjadi TBC aktif dapat mencegah terjadinya resistansi OAT secara keseluruhan.

4.     Karena selama beberapa bulan tidak ada gejala, maka bisa menghentikan minum TPT

Fakta: TPT tetap harus diminum hingga selesai meskipun hasil pemeriksaan bakteriologis/BTA pasien TBC (kasus indeks) menjadi negatif. Hal ini bertujuan untuk membunuh kuman TBC secara tuntas. Jika individu mengalami gejala TBC selama periode minum TPT, harus dilaporkan kepada petugas kesehatan.

5.     Karena sudah pernah sembuh dari TBC maka tidak perlu melakukan TPT

Fakta: TPT diberikan kepada kelompok berisiko yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Meski seseorang sudah sembuh dari TBC, ia tetap berisiko untuk terpapar dan terinfeksi kuman TBC kembali saat daya tahan tubuh menurun. Sehingga untuk mengantisipasi berkembangnya kuman TBC menjadi aktif, seseorang yang berisiko terpapar kuman TBC dan tidak menunjukkan gejala TBC disarankan menjalani terapi pencegahan TBC.

 

Sumber:

 

Editor: Melya, Yeremia PMR

  • 7 October 2022

  • 22 June 2022

  • 13 June 2022

  • 6 June 2022